Sabtu, 16 Juni 2012

Bimbingan Islam dalam Rumah Tangga


Islam telah membimbing kita dalam membangun rumah tangga, dimulai dari memilih pasangan hidup. Islam mengikat suami istri dalam ikatan kokoh, menentukan hak dan kewajiban, serta mewajibkan mereka menjaga buah pernikahan ini. Islam juga mengantisipasi segala problema yang dapat menghadang kehidupan rumah tangga secara tepat. Itulah kesempurnaan islam yang sangat indah.

Pernikahan! Kata itu sangat indah didengar tetapi keindahan di dalamnya harus serta-merta dibarengi dengan persiapan. Pernikahan berarti mempertemukan kepentingan-kepentingan dua individu dan bukan mempertentangkannya.

Ketika biduk rumah tangga telah berlayar, apa saja yang bisa anda lakukan di dalamnya? Hari berlalu, pekan berlalu, bergantilah bulan. Tiba-tiba suatu hari anda merasakan ada sesuatu yang tidak mengenakkan anda. Anda mengamati sifat dan pasangan anda selama beberapa pekan sejak pernikahan, ternyata ada yang tidak anda sukai dan yang tidak anda harapkan. Sejak saat itu, anda menemukan bahwa rumah tangga tidak hanya berisi kegembiraan, namun juga tantangan, bahkan bisa juga ancaman. Seorang suami mungkin bertanya-tanya siapakah gerangan engkau wahai istriku? Demikian ia sering bertanya dalam hatinya. Sekian banyak hal-hal aneh dan asing yang ia temukan pada diri seorang ‘makhluk halus’ bernama istrinya itu. 

Demikian pula, pertanyaan itu muncul di benak sang istri. Seperti ia sedang dihadapkan pada sebuah laboratorium bernyawa, tengah ada banyak penelitian dan pelajaran yang bisa dieksplorasi di dalamnya. Ia menghadapi hari-hari yang berharga, pengenalan demi pengenalan, pengalaman demi pengalaman dan berbagai pertanyaan yang belum terjawabkan. Dulu waktu masih lajang, seorang muslimah yang belum pernah bersentuhan kulit dengan lawan jenis, kini tiba-tiba dihadapkan pada seorang asing yang nantinya akan mengetahui banyak ‘rahasia’ dirinya. Ia seorang wanita yang ‘clingus’ menurut orang jawa, wanita yang tak berani ngobrol dan bercanda dengan lawan jenisnya, namun tatkala masuk ke jenjang pernikahan ia harus berhadapan dengan ‘dunia’ laki-laki. Kini, ia mencoba menyesuaikan irama kehidupan dirinya dengan sang suami. Ia mulai mengenal dunia laki-laki secara dekat tanpa jarak. Demikian pula hal-nya dengan sang suami.

Sebenarnyalah kesulitan yang dihadapi merupakan sesuatu yang wajar dan manusiawi. Betapa tidak! Pernikahan telah mempertemukan bukan saja dua individu yang berbeda, laki-laki dan perempuan, tetapi dua kepribadian, dua selera, dua latar budaya, dua karakter, dua hati, dua otak dan ruh yang hampir dapat dipastikan banyak ketidaksamaan yang akan ditemui oleh keduanya. Seorang manusia yang terkadang bisa saja tak paham akan suasana hatinya, sekarang malah dituntut untuk memahami hati orang lain?!

Kehidupan rumah tangga tak semuanya bisa dirasionalkan begitu saja, terkadang memerlukan proses kontemplasi yang rumit, memahami dunia baru, memahami suasana jiwa, logika, psikologis dan fisiologis yang bergulir bersama di dalam kehidupan rumah tangga. Kuliah S1 ternyata tak cukup membekali teori tentang ’siapakah laki-laki dan perempuan’ dalam tataran teoritis maupun praktis. Tentunya kita kurang mampu memahami dunia pasangan kita, kecuali menempuh pembelajaran dan saling membantu untuk terbuka kepada pasangannya tentang apa yang dirasakan, kepedihan duka, kegembiraan, kecemburuan, kekecewaan, kebanggaan, keinginan, dan jutaan determinasi perasaan lainnya. Saling mencintai memerlukan proses pembelajaran. Saling membantu mengajarkan tentang diri sendiri, bahwa aku adalah makhluk Allah yang punya keinginan dan mestinya engkau mengerti keinginanku. Akan tetapi bahasan verbal tak senantiasa berhasil mengungkap hakikat perasaan.

Menikah adalah pilihan sadar setiap laki-laki dan perempuan dalam islam. Seorang laki-laki berhak menentukan pasangan hidup sebagaimana perempuan. Jika kemudian sepasang laki-laki dan perempuan memutuskan untuk saling menerima dan sepakat melangsungkan pernikahan, atas alasan apakah satu pihak merasa terpaksa berada di samping pasangan hidupnya setelah resmi berumah tangga??!! Sebelum terjadinya akad nikah, pilihan masih terbuka lebar, akan tetapi setelah adanya akad nikah, adalah sebuah pengkhianatan terhadap makna akad itu sendiri apabila satu pihak senantiasa mencari-cari keburukan dan kesalahan pasangannya dengan merasa benar dan bersih sendiri. Tentunya hal tersebut merupakan salah satu bentuk penyucian diri, terlebih lagi tindakannya tersebut akan menumbuhkan benih-benih kebencian dalam hati terhadap seseorang yang telah menjadi pilihannya. Allah ta’ala berfirman:

فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى
“Janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.” (QS. An Najm: 32).

لَا يَفْرَكْ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِيَ مِنْهَا آخَرَ
“Janganlah seorang mukmin membenci seorang mukminah, karena walaupun dirinya membenci salah satu perangainya, tentulah akan ada perangai lain yang disukainya.” (HR. Muslim nomor 2672)

Imam An Nawawi mengatakan, “Yang benar, hadits ini merupakan larangan bagi seorang suami agar tidak membenci istrinya, karena apabila istrinya memiliki perangai yang tidak disenanginya, tentulah akan ada perangai lain yang disukainya, misalnya istrinya memiliki akhlak yang jelek, akan tetapi mungkin saja dia komitmen terhadap agama, memiliki paras yang cantik, mampu menjaga diri, lembut atau yang semisalnya.” (Syarh Shahih Muslim, 5/209).

لِأَنَّهُ إِنْ وَجَدَ فِيهَا خُلُقًا يُكْرَه وَجَدَ فِيهَا خُلُقًا مَرْضِيًّا بِأَنْ تَكُون شَرِسَة الْخُلُق لَكِنَّهَا دَيِّنَة أَوْ جَمِيلَة أَوْ عَفِيفَة أَوْ رَفِيقَة بِهِ أَوْ نَحْو ذَلِكَ
Memang ada pilihan lain yang dicontohkan shahabiyah Habibah binti Sahl ketika menemukan kebuntuan dalam rumah tangga sehingga dirinya mengajukan khulu’. Nabi pun memberikan jalan keluar (HR. Malik nomor 1032; Abu Dawud nomor 1900, 1901; An Nasaa’i nomor 3408; Ibnu Majah nomor 2047; Ahmad nomor 26173; dishahihkan oleh Al ‘Allamah Al Albani dalam Al Irwa’, 7/102-103, Shahih Sunan Abu Dawud nomor 1929). Namun, cerai bukanlah jalan pertama yang harus ditempuh, sebab proses belajar menerima dan mencintai harus terjadi dan ditempuh terlebih dahulu. Karena tujuan kita menikah adalah ibadah, mengabdi pada Allah dan mencapai keridhoan-Nya. Sedangkan hasil akhir dari ibadah itu sendiri adalah mencapai tingkat ketakwaan atau pemeliharaan diri dari segala kemaksiatan, yang akan membawa pemiliknya merengkuh ridho Allah. Berbagai upaya akan ditempuh oleh orang yang ingin mencapai derajat ketakwaan, tidak terkecuali melalui pernikahan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اتَّقِ اللَّهِ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعْ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَن
“Bertakwalah kamu dimanapun kamu berada, bila kamu berbuat kejahatan, segera iringi dengan perbuatan baik, sehingga dosamu terhapus, lalu pergaulilah manusia dengan akhlaq yang baik.” (HR. Tirmidzi nomor 1910; dihasankan Syaikh Al Albani dalam Al Misykah nomor 5083, Ar Raudlun Nadhir nomor 855, Shahih wadl Dhaif Sunan At Tirmidzi, 4/487)

Setiap pasangan hendaknya merenungkan bahwasanya ketika mereka menikah, mereka tinggal menyempurnakan “setengah ketakwaan”, apakah “setengah ketakwaan” yang telah dianugerahkan Allah kepada mereka hendak disia-siakan?

Mari kita belajar membentuk bahtera rumah tangga yang mampu berlayar merengkuh keridhoaan-Nya. Bertakwalah kepada Allah dalam setiap mengambil keputusan dan bersabarlah menghadapi kekurangan dan kelemahan pasangan kita, karena tak ada manusia yang sempurna, teruslah bermuhasabah diri. Mudah-mudahan dengan kesabaran kita, Allah akan memudahkan dan memberikan kebahagiaan dalam rumah tangga kita. Teruslah berusaha melaksanakan semua kewajiban yang Allah bebankan pada kita dengan segala kemampuan dan kekuatan yang ada, Allah-lah sumber kekuatan kita, dengan mengharap ridha-Nya dan cinta-Nya. Berjanjilah, mulai hari ini, bahwa keindahan hidup rumah tangga pada mulanya berasal dari kesadaran anda akan janji besar ini! Dengan demikian, semoga kita mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat. Semoga Allah mengumpulkan kita dengan pasangan beserta anak-anak kita dalam jannah-Nya. Amiin…

Sikap Pria Idaman para Wanita



Komunikatif
Menurut hasil riset, wanita memerlukan lebih banyak waktu untuk bicara dan diajak bicara dibandingkan dengan pria. Wanita menyukai pria yang komunikatif dan selalu punya bahan pembicaraan yang menarik. Pria yang humoris tentu saja punya nilai plus di mata wanita.

 Perhatian
Wanita menyukai pria yang penuh perhatian. Perhatian yang wajar dan tulus bisa membuat wanita merasa dihargai dan disayangi. Bila disampaikan pada saat yang tepat, perhatian yang kecil pun bisa meninggalkan kesan yan manis dan tak terlupakan.

Pengertian
Pria yang penuh pengertian tidak suka memberi ceramah panjang lebar, memasang wajah cemberut atau marah besar untuk mengubah kebiasaan buruk kekasihnya. Ia selalu siap memanfaatkan kesalahannya, berusaha mentolerir kelemahannya, berupaya memenuhi keinginannya, mencoba melihat dari sudut pandangnya, dsb.    

Tegas
Wanita memerlukan seorang pendamping yang bisa bersikap tegas dan bisa mengambil keputusan. Misalnya, ketika bingung untuk memilih, wanita memerlukan Anda untuk membantunya mengambil keputusan. Laki-laki yang plin-plan, ragu-ragu dan susah memgambil keputusan biasanya kurang dihargai.

Tegar
Wanita mengagumi pria yang bersikap tegar dan berjiwa besar. Ketegaran tidak tampak ketika segala sesuatu berjalan lancar. Justru ia diuji ketika ada masalah, ketika hubungan terancam putusa, ketika ujian gagal, ketika terjadi PHK, dsb. Pria yang mudah menyerah, putus asa dan frustasi tidak menarik bagi seorang wanita. Bagaimana mungkin aku akan berlindung pada seorang bayi yang rapuh!

Menghormati Wanita
Wanita akan menghormati pria yang menghormatinya. Kapan wanita merasa dihormati? Ketika dia dibukakan pintu dan dipersilahkan masuk duluan, ketika beban yang diangkatnya diambil alih, ketika dia tidak dibiarkan menunggu terlalu lama, ketika dia dipuji di depan orang lain, ketika hasil karyanya dihargai, dsb.

Melindungi Wanita
Meskipun suka dilindungi, namun wanita tidak menyukai perlindungan yang over dan kaku. wanita tidak merasa dilindungi bila kemana-mana selalu dikawal, diawasi atau dimonitor meskipun dengan dalih demi keselamatanmu. Wanita juha tida suka terlalu diatur dan dilarang meskipun dengan alasan demi kebaikanmu. Wanita menghargai perlindungan yang lembut. Misalnya, berjalan atau menyeberang pada posisi aman, ditemani ketika dia merasa ketakutan, diantar ke dokter ketika dia sakit, didampingi ketika dia naik jet coster, dsb.

Menghargai Wanita
Wanita ingin dihargai dan diperlakukan oleh kekasihnya. Dia tidak suka mendampingi pria yang berkesan tidak terlalu menghargainya. Kapan dia merasa dihargai? Ketika dari luar kota Anda meneleponnya dan bilang Aku merindukanmu, ketika Anda meminta pendapatnya, ketika Anda tidak menyembunyikan seseuatu dengan alasan itu urusan laki-laku, dsb.

Simpatik
Pria yang simpatik tidak hanya bersikap baik kepada kekasihnya, tapi juga kepada keluarga kekasihnya, kepada teman-temannya dan kepada orang lain. Dengan demikian dia membuktikan bahwa kebaikannya bukan sandiwara, tapi benar-benar kebiasaan dan sifatnya.

Romantis
Pria yang romantis biasanya bersikap manis, memperlakukan kekasihnya dengan lembut, memanggilnya dengan sebutan yang romantis, memberi bunga pada hari-hari spesial, dsb. Meski tidak setampan Tom Cruise, Brad Pitt dan selembut Richard Gere, setiap pria perlu belajar untuk bersikap romantis. Mengapa? Karena pria yang romantis adalah pria idaman wanita.

Arti Cinta dalam Islam

Kata pujangga cinta letaknya di hati. Meskipun tersembunyi, namun getarannya tampak sekali. Ia mampu mempengaruhi pikiran sekaligus mengendalikan tindakan. Sungguh, Cinta dapat mengubah pahit menjadi manis, debu beralih emas, keruh menjadi bening, sakit menjadi sembuh, penjara menjadi telaga, derita menjadi nikmat, dan kemarahan menjadi rahmat. Cintalah yang mampu melunakkan besi, menghancurkan batu karang, membangkitkan yang mati dan meniupkan kehidupan padanya serta membuat budak menjadi pemimpin. Inilah dasyatnya cinta (Jalaluddin Rumi).

Namun hati-hati juga dengan cinta, karena cinta juga dapat membuat orang sehat menjadi sakit, orang gemuk menjadi kurus, orang normal menjadi gila, orang kaya menjadi miskin, raja menjadi budak, jika cintanya itu disambut oleh para pecinta palsu. Cinta yang tidak dilandasi kepada Allah. Itulah para pecinta dunia, harta dan wanita. Dia lupa akan cinta Allah, cinta yang begitu agung, cinta yang murni. 
   
Cinta Allah cinta yang tak bertepi. Jikalau sudah mendapatkan cinta-Nya, dan manisnya bercinta dengan Allah, tak ada lagi keluhan, tak ada lagi tubuh lesu, tak ada tatapan kuyu. Yang ada adalah tatapan optimis menghadapi segala cobaan, dan rintangan dalam hidup ini. Tubuh yang kuat dalam beribadah dan melangkah menggapai cita-cita tertinggi yakni syahid di jalan-Nya.

Tak jarang orang mengaku mencintai Allah, dan sering orang mengatakan mencitai Rasulullah, tapi bagaimana mungkin semua itu diterima Allah tanpa ada bukti yang diberikan, sebagaimana seorang arjuna yang mengembara, menyebarangi lautan yang luas, dan mendaki puncak gunung yang tinggi demi mendapatkan cinta seorang wanita. Bagaimana mungkin menggapai cinta Allah, tapi dalam pikirannya selalu dibayang-bayangi oleh wanita/pria yang dicintai. Tak mungkin dalam satu hati dipenuhi oleh dua cinta. Salah satunya pasti menolak, kecuali cinta yang dilandasi oleh cinta pada-Nya.

Di saat Allah menguji cintanya, dengan memisahkanya dari apa yang membuat dia lalai dalam mengingat Allah, sering orang tak bisa menerimanya. Di saat Allah memisahkan seorang gadis dari calon suaminya, tak jarang gadis itu langsung lemah dan terbaring sakit. Di saat seorang suami yang istrinya dipanggil menghadap Ilahi, sang suami pun tak punya gairah dalam hidup. Di saat harta yang dimiliki hangus terbakar, banyak orang yang hijrah kerumah sakit jiwa, semua ini adalah bentuk ujian dari Allah, karena Allah ingin melihat seberapa dalam cinta hamba-Nya pada-Nya. Allah menginginkan bukti, namun sering orang pun tak berdaya membuktikannya, justru sering berguguran cintanya pada Allah, disaat Allah menarik secuil nikmat yang dicurahkan-Nya.

Itu semua adalah bentuk cinta palsu, dan cinta semu dari seorang makhluk terhadap Khaliknya. Padahal semuanya sudah diatur oleh Allah, rezki, maut, jodoh, dan langkah kita, itu semuanya sudah ada suratannya dari Allah, tinggal bagi kita mengupayakan untuk menjemputnya. Amat merugi manusia yang hanya dilelahkan oleh cinta dunia, mengejar cinta makhluk, memburu harta dengan segala cara, dan enggan menolong orang yang papah. Padahal nasib di akhirat nanti adalah ditentukan oleh dirinya ketika hidup didunia, Bersungguh-sungguh mencintai Allah, ataukah terlena oleh dunia yang fana ini. Jika cinta kepada selain Allah, melebihi cinta pada Allah, merupakan salah satu penyebab do’a tak terijabah.
  • Bagaimana mungkin Allah mengabulkan permintaan seorang hamba yang merintih menengadah kepada Allah di malam hari, namun ketika siang muncul, dia pun melakukan maksiat.
  • Bagaimana mungkin do’a seorang gadis ingin mendapatkan seorang laki-laki sholeh terkabulkan, sedang dirinya sendiri belum sholehah.
  • Bagaimana mungkin do’a seorang hamba yang mendambakan rumah tangga sakinah, sedang dirinya masih diliputi oleh keegoisan sebagai pemimpin rumah tangga..
  • Bagaimana mungkin seorang ibu mendambakan anak-anak yang sholeh, sementara dirinya disibukkan bekerja di luar rumah sehingga pendidikan anak terabaikan, dan kasih sayang tak dicurahkan.
  • Bagaimana mungkin keinginan akan bangsa yang bermartabat dapat terwujud, sedangkan diri pribadi belum bisa menjadi contoh teladan
Banyak orang mengaku cinta pada Allah dan Allah hendak menguji cintanya itu. Namun sering orang gagal membuktikan cintanya pada sang Khaliq, karena disebabkan secuil musibah yang ditimpakan padanya. Yakinlah wahai saudaraku kesenangan dan kesusahan adalah bentuk kasih sayang dan cinta Allah kepada hambanya yang beriman…

Dengan kesusahan, Allah hendak memberikan tarbiyah terhadap ruhiyah kita, agar kita sadar bahwa kita sebagai makhluk adalah bersifat lemah, kita tidak bisa berbuat apa-apa kecuali atas izin-Nya. Saat ini tinggal bagi kita membuktikan, dan berjuang keras untuk memperlihatkan cinta kita pada Allah, agar kita terhindar dari cinta palsu.

Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan hambanya yang betul-betul berkorban untuk Allah Untuk membuktikan cinta kita pada Allah, ada beberapa hal yang perlu kita persiapkan yaitu:
  1. Iman yang kuat
  2. Ikhlas dalam beramal
  3. Mempersiapkan kebaikan Internal dan eksternal. kebaikan internal yaitu berupaya keras untuk melaksanakan ibadah wajib dan sunah. Seperti qiyamulail, shaum sunnah, bacaan Al-qur’an dan haus akan ilmu. Sedangkan kebaikan eksternal adalah buah dari ibadah yang kita lakukan pada Allah, dengan keistiqamahan mengaplikasikannya dalam setiap langkah, dan tarikan nafas disepanjang hidup ini. Dengan demikian InsyaAllah kita akan menggapai cinta dan keridhaan-Nya.

Jika Seorang Pria Benar-Benar Mencintaimu..


Jika seorang pria benar-benar mencintaimu, dia tak akan mencuekkanmu seharipun, sebab hari-hari yang merindu sangatlah sulit dijalani.

Jika seorang pria benar-benar mencintaimu, dia akan memanjakanmu seperti anak kecil, bahkan dia sendiri tak tahu alasan memanjakanmu.

Jika seorang pria benar-benar mencintaimu, dia akan senantiasa membuatmu senang, sebab dia tak akan membiarkanmu meneteskan air mata.

Jika seorang pria benar-benar mencintaimu, dia kan mengaktifkan ponselnya 24 jam x 7 hari untukmu, sebab ia mau kapan dan dimana saja kamu bisa menemukannya.

Jika seorang pria benar-benar mencintaimu, dia akan menganggapmu paling indah dan tak akan membandingkanmu dengan wanita lain.

Jika seorang pria benar-benar mencintaimu, ia akan menemanimu walaupun ia sendiri sangat sibuk.

Jika seorang pria benar-benar mencintaimu, ia tak akan setuju saat kamu diet, kesehatanmu menjadi prioritas utama baginya.

Jika seorang pria benar-benar mencintaimu, ia sangat ingin hidup bersamamu, sebab kamulah bagian terpenting dalam hidupnya.

Jika setelah kamu membaca kalimat ini kamu memikirkan seorang pria, mungkin dialah pria yang benar-benar mencintaimu.

Pengertian Perasaan Cinta



Perasaan Cinta  adalah sebuah emosi dari kasih sayang yang kuat dan ketertarikan pribadi. Dalam konteks filosofi cinta merupakan sifat baik yang mewarisi semua kebaikan, perasaan belas kasih dan kasih sayang. Pendapat lainnya, cinta adalah sebuah aksi/kegiatan aktif yang dilakukan manusia terhadap objek lain, berupa pengorbanan diri, empati, perhatian, memberikan kasih sayang, membantu, menuruti perkataan, mengikuti, patuh, dan mau melakukan apapun yang diinginkan objek tersebut.

Perasaan Cinta  adalah satu perkataan yang mengandungi makna perasaan yang rumit. Bisa di alami semua makhluk. Penggunaan perkataan cinta juga dipengaruhi perkembangan semasa. Perkataan sentiasa berubah arti menurut tanggapan, pemahaman dan penggunaan di dalam keadaan, kedudukan dan generasi masyarakat yang berbeda. Sifat cinta dalam pengertian abad ke 21 mungkin berbeda daripada abad-abad yang lalu. Ungkapan cinta mungkin digunakan untuk meluapkan perasaan seperti berikut:

·             Perasaan terhadap keluarga
·             Perasaan terhadap teman-teman, atau philia
·             Perasaan yang romantis atau juga disebut asmara
·             Perasaan yang hanya merupakan kemahuan, keinginan hawa nafsu atau cinta eros
·             Perasaan sesama atau juga disebut kasih sayang atau agape
·             Perasaan tentang atau terhadap dirinya sendiri, yang disebut narsisisme
·             Perasaan terhadap sebuah konsep tertentu
·             Perasaan terhadap negaranya atau patriotisme
·             Perasaan terhadap bangsa atau nasionalisme

syair pernikahan

Suami ke Istri Tercinta :

Duhai Pujaan Hatiku

Wahai Istriku.....
Janganlah engkau terlampau mencintaiku
Aku hanya sekedar makhluk yang tiada daya upaya

Aku tidak pernah membelaimu
Kecuali ALLAH SWT mengkaruniakan kekuatan kepadaku
Aku tidak akan pernah mampu memberi nafkah kepadamu walau satu rupiahpun,
Kecuali ALLAH SWT menitipkan rezeki kepadaku

Cintailah ALLAH SWT, pemilik alam semesta ini
Sekiranya ALLAH SWT mencintaimu,
Maka niscaya akan Dia-lah yang akan memelihara dirimu
Walau aku jauh darimu

Sekiranya ALLAH SWT menyayangimu,
Maka Dia pastikan membela dan mencukupimu
Walau aku tidak berdaya untuk membela dan mencukupimu

Cintailah aku
Sekedar apa yang diperintahkan ALLAH SWT kepadamu


Istri ke Suami Tercinta :

Duhai Pelita Hatiku

Wahai suamiku.....
Aku tak pernah mengharapkan dunia macam apapun darimu
Janganlah engkau mencintaiku melebihi cintamu kapada ALLAH SWT

Jika engkau mencintai ALLAH SWT,
Aku tidak kuatir engkau akan meninggalkanku

Pergilah mencari nafkah untukku dan anakmu
Aku titipkan engkau kepada ALLAH SWT
Sesibuk apapun, Janganlah engkau melalaikan sholat,
Berbuat baiklah kepada siapapun

Muliakanlah aku sehingga engkau juga akan dimuliakan dihadapan ALLAH SWT

Duhai Suamiku....
Ajari aku untuk menjadi hamba ALLAH
Yang ikhlas dan pandai bersyukur
Ajari aku untuk dapat mencium wewangian surga
Menjadi bidadari yang menemanimu kelak disurgaNya


Dari Saya untuk mereka yang merayakan pernikahan.....^^

Atas Nama Cinta Membangun Rumah Tangga



  • Biasanya ketika bicara masalah membangun rumah tangga maka yang muncul adalah masalah hak dan kewajiban suami isteri
  • Lalu berlaku menuntut hak dan menunaikan kewajiban
  • Setiap ada permasalahan, maka kita akan kembalikan pada definisi mengenai hak dan kewajiban tersebut.
  • Mari kiat lihat kisah berikut peristiwa seorang anak nakal, maka bisa jadi suami akan mengatakan kepada isterinya, "Ini kan kewajiban kamu untuk mendidiknya. Kamu tidak bisa melakukannya dengan baik sehingga anak kita nakal." Sang isteri bisa jadi akan membela diri dengan mengatakan, "Tetapi karena engkau tidak cukup memberikan uang, terpaksa anak kita tidak belajar di sekolah unggulan. Terpaksa aku menyekolahkannya di sekolah yang murah dan tidak bermutu, dampaknya anak kita nakal serta bodoh".
  • Kisah kedua : ketika rumah tampak tidak teratur dan berantakan, seorang suami bisa mengatakan, "Rumah kita berantakan. Engkau tidak menatanya dengan baik. Bukankah ini kewajibanmu?" Sedangkan isteri bisa menjawabnya dengan ungkapan, "Engkau tidak bisa berlaku sebagai pemimpin yang baik. Waktumu habis di luar rumah, sementara engkau juga tidak memberikan kepadaku pembantu rumah tangga".
  • Apabila seluruh masalah senantiasa dikembalikan kepada pembahasan tentang hak dan kewajiban, sesungguhnya tidak akan pernah bisa menyelesaikan masalah itu sendiri.
  • Perhatikan kekakuan dalam dialog berikut ini. Ana menuntut suaminya, Ahmad, untuk berlaku romantis. "Tunjukkan bukti cintamu padaku. Selama ini kau tak pernah merayuku. Selama ini kau tak pernah menyatakan rasa cintamu padaku", kata Ana. "Bukankah aku sudah bekerja mencari nafkah, aku sudah memenuhi semua kebutuhan keluarga kita. Bukankah itu sudah menjadi bukti yang paling kongkrit bahwa aku mencintaimu. Lebih dari itu aku tidak pernah menyeleweng", jawab Ahmad. "Itu tak cukup bagiku. Semestinya suami harus pandai merayu dan mengungkapkan kata-kata mesra kepada isterinya. Kau tak pernah melakukannya", keluh Ana. "Apakah ada kewajiban bagi suami untuk merayu isterinya? Mana dalil yang menyatakan bahwa suami harus merayu isteri?" Ahmad tak kalah ketus menjawab.
  • Pada kesempatan yang lain, Ana merasa kelelahan melakukan semua pekerjaan rumah tangganya. Hingga akhirnya ia tidak mencuci pakaian dan menyeterika hari itu. Besok paginya, saat Ahmad akan berangkat bekerja, ia mendapatkan bajunya belum rapi. "Kenapa engkau tidak menyeterika bajuku? Aku akan bekerja dengan pakaian apa hari ini, sedang baju yang kupakai kemarin juga belum kau cuci", keluh Ahmad. "Aku sangat lelah kemarin, tak sempat menyeterika baju-baju kita. Tidak kah engkau bisa menyeterika sendiri pagi ini? Lihatlah, aku sangat sibuk dengan anak bayi kita ini", jawab Ana. "Tetapi bukankah menyeterika baju ini kewajibanmu? Mengapa tak kau utamakan?" tanya Ahmad. "Kewajibanku? Apakah ada kewajiban isteri untuk mencuci dan menyeterika baju suaminya? Mana dalil yang menyatakan bahwa isteri wajib menyeterika baju suami?" ungkap Ana dengan ketus.
  • Coba anda bayangkan ????????? suasana rumah tangga apabila hanya mengandalkan pembahasan tentang hak dan kewajiban? Kaku, kering, formalistik dan mekanistik. Tidak ada suasana keindahan dan kelembutan.
  • Ada lagi kerangka kultural, biasa terjadi dalam keluarga yang proses pernikahannya terjadi secara tradisional
  • Akan tetapi akan menjadi masalah manakala corak kultural ini dibingkai dalam sebuah konstruksi “agama” yang digunakan sebagai landasan kekuatan untuk memaksakan kehendak. Misalnya seorang suami melarang isterinya aktif dalam partai politik, karena “biasanya” yang aktif di parpol adalah laki-laki, sembari menjastifikasi dengan dalil agama, bahwa hendaknya wanita di dalam rumah saja.
  • Atau suami tidak mau mengerjakan kegiatan kerumahtanggaan seperti memasak, mencucui dan membersihkan rumah karena “biasanya” yang melakukan adalah para isteri, sembari melegitimasi ungkapan itu dengan dalil agama, bahwa wanita bertanggung jawab atas urusan di dalam rumah. Apabila para isteri menerima pembagian peran seperti ini atas dasar keikhlasan tanpa keterpaksaan, tentulah akan berjalan dengan lancar dan tidak akan menimbulkan masalah.
  • Untuk itulah, hendaknya rumah tangga Islam harus mengedepankan suasana kehangatan, keterbukaan, kekompakan, dan kebersamaan di dalamnya.
  • Kerangka cinta, itulah yang diperlukan dalam setiap rumah tangga.  Dengan cinta, seorang suami bisa menunaikan kewajibannya dengan penuh semangat dan pengorbanan.  Dengan cinta seorang suami akan optimal bekerja mencari nafkah, memberikan waktu, tenaga, harta dan perhatian utamanya untuk mengelola keluarga.
  • Dengan cinta seorang isteri bersedia melakukan pekerjaan kerumahtanggaan dengan ringan dan tanpa rasa keterpaksaan. Ia didik anak-anak dengan sepenuh cinta, ia siapkan keperluan suami dengan penuh cinta. Ia mengatur rumah tangga, menata taman, menata ruangan-ruangan dalam rumah, memberikan hiasan, semua dikerjakan dengan cinta. Mereka berinteraksi satu sama lain dengan bahasa cinta.
  • Rumah tangga cinta, itulah sebutan bagi mereka. Suasana yang menyelimuti mereka setiap harinya adalah cinta.
  • Isteri yang tersenyum ceria mengantar kepergian dan menyambut kedatangan suami, bukanlah karena kewajiban, tetapi karena cinta.
  • Seorang suami yang membelai rambut isterinya, mengucapkan kata-kata pujian dan ungkapan kebahagiaan, bukan karena kewajiban, tetapi karena cinta.
  • Isteri yang membantu suami menyiapkan keperluannya, merapikan jas dan dasi suami, menyiapkan tas kerja suami., bukanlah karena kewajiban, tetapi cinta.
  • Anak-anak yang demikian taat dan patuh kepada orang tua, membahagiakan kedua orang tua, bukan dengan bahasa kewajiban tetapi dengan penuh kecintaan.
  • Ayah yang memperhatikan pendidikan anak, membimbing mereka untuk mentaati Allah, mengajari mereka prinsip-prinsip aqidah dan ibadah, membentuknya berakhlaq karimah, semua dengan landasan cinta.
  • Suami yang menegur isterinya karena ada perbuatan yang tidak pantas dilakukan sebagai muslimah, teguran dilakukan bukan karena tengah mengerjakan kewajiban, tetapi tengah mengekspesikan cinta.
  • Isteri yang menyimpan cemburu kepada suami, karena khawatir melakukan penyimpangan dengan wanita lain, lalu ia memberikan peringatan agar suami berhati-hati, adalah ekspresi cinta dari isteri.
  • Rumah tangga dipenuhi cinta, ekspresinya ada pada semua titik interaksi mereka.