Senin, 08 Desember 2014

Hal biasa dan luar biasa dari teman



Berteman dengan orang-orang baik merupakan pilihan, siapa yang ingin menjadi baik hendaklah ia berteman dengan orang-orang baik, karena orang yang baik akan menularkan contoh kebaikan kepada temannya begitupula dengan teman yang memiliki sifat buruk, perlahan-lahan ada sifat yang tanpa sadar ‘menular’ kepada temannya.
Rasulullah bersabda yang artinya : “Agama seseorang dapat bergantung dengan temannya, hendaklah kalian memperhatikan siapa yang kalian jadikan teman” ( Hr. Abu Daud dan Tirmidzi)

Secara tidak sengaja,  perilaku baik atau buruk seseorang begitu cepat menjangkiti orang lain, apalagi jika interaksi itu terjadi secara rutin dan kontinu, maka efeknya tentu akan lebih dahsyat lagi. Alangkah indahnya jika kita ‘terjangkiti’ perilaku baik dari teman-teman yang baik, sehingga kebaikan akan tersebar dan melahirkan kebaikan lainnya.

Orang yang terbaik adalah orang yang jika kita melihat dan berinteraksi dengan mereka mengingatkan kita kepada Allah, dan seburuk-buruk manusia adalah orang yang jika kita melihat dan berinteraksi dengan mereka menjauhkan kita kepada Allah dan mendorong  untuk berbuat maksiat. 

Rasulullah bersabda: “Maukah kalian aku tunjukkan manusia terbaik diantara kalian?, sahabat menjawab,” Tentu Ya Rasulullah, Rasul bersabda,”Sebaik-baik orang adalah yang jika kalian melihatnya mengingatkan kepada Allah.” ( HR. Ibnu Majah )

Umar bin Khattab berkata,” Hendaklah kalian bersama teman-teman yang baik, karena mereka ibarat hiasan kegembiraan dan bekal dalam ujian.”

Keutamaan lain yang dimiliki oleh teman-teman yang baik adalah doa. Doa teman yang baik dari jauh akan dikabulkan Allah, Rasulullah bersabda,” Doa seorang mukmin untuk saudara yang  tidak berada disisinya akan dikabulkan Allah, dibawa oleh Malaikat yang bertugas, setiap saudaranya berdoa kebaikan malaikat berkata,” Amiin “ ( semoga Allah mengabulkan )  Dan bagimu seperti doamu ( HR. Muslim  ).

Special 'without you'  Agung Setiono


Minggu, 07 Desember 2014

Kesibukan VS Kebersamaan

Kesibukan VS Kebersamaan
Ternyata Kurikulum 2013 sukses menyita sebagian besar waktu, pikiran, dan tenagaku. Huh !
Tapi, kalau dipikir-pikir kesibukan yang seperti itu bagus juga. Terutama untuk orang yang punya bakat sering terserang perasaan gundah atau gelisah tak menentu (atau dalam bahasa sekarang: galau!). Dan mungkin saya termasuk di dalamnya.
Dalam kehidupan pernikahan saya, saya mencatat ‘penyakit’ itu sangat mengganggu apalagi di saat istri saya jadi semakin manja karena masa kehamilannya. Sering saya menjadi terlarut dan merenunginya terus-menerus. Betapa susahnya istri saya menjalani masa kehamilan dan melakukan kewajiban sebagai istri yang jauh dari suami harus kuliah, mengajar, mengurusi kedua anak saya, menjaga rumah dan merawat orang tua.
Syukur alhamdulillah, ditengah kesibukannya mengajar, kuliah, belajar, dan sebagainya. Beliau sama seklai tidak mengeluh dengan keadaan ini, bahkan kami jarak memisahkan kami tidak lebih dari ujian yang kami aggap adalah ibadah mencari ridho Allah SWT. Mengobrol tak harus setiap hari. Komunikasi via telephon kami lakukan secara intennsif. Sekedar melepas kangen dan berbagi cerita tentang keadaan kami masing masing.
Bertemu sekali dalam seminggi terasa sebagai anugerah yang luar biasa untuk kami .
Banyak komentar kepada istri saya tercinta terkait kondisi kami ini. Mulai dari candaan sampai tanggapan serius.  Yang tersering dan paling membingungkanku adalah pernyataan-pernyataan penuh rasa kasihan atau waswas seperti contoh berikut.
1.       “Kasihan amat suaminya nggak di rumah, anak sudah dua dan sedang mengandung pula” itu salah satunya
Alhamdulillah kami selalu saling mendampingi 24 jam sehari, 7 hari seminggu, 12 bulan setahun, tanpa bergantung pada kuantitas tatap muka atau mengobrol! Itu jawaban kami
2.       “Kalo saling berjauhan gitu kan banyak godaan. Kalo masing-masing tergoda sama yang lain gimana? Itu salah satunya
InsyaAllah kami saling percaya dan Allah yang Maha Menjaga ! Itu jawaban kami

Dengan adanya siklus hari-hari saat tinggal seatap dan hari-hari saat berjauhan, Kami “saya dan istri” menikmati begitu banyak hal. Aku sangat terbiasa untuk sedih dan khawatir setiap saya pergi ke Cikarang, dan terbiasa pula untuk gembira berbunga-bunga setiap jadwal pulang kampung.
Begitu pula dengan istri saya. Setelah beberapa lama tidak bertemu, tingkahnya saat bertemu kembali dengan saya tak berbeda dari ekspresi antusias dan kebahagiaan sederhana seorang istri. Nah, jadi di mana letak kasihannya? Bukankah kami pasangan yang sangat beruntung dan akan menjadi tak tahu diri kalau tak mensyukurinya? (Maka nikmat mana lagi yang kau dustakan, hai manusia!)
Saat-saat akan berpisah dan bertemu kembali selalu menjadi momen istimewa bagi kami. Sementara itu, masa saat berjauhan di antaranya pun terasa sebagai nikmat dan berkah tersendiri. Kami tidak hanya sama-sama mendapat kesempatan untuk berdikari dan fokus berkarya di bidang masing-masing.
Banyak berjauhan dan punya kesibukan masing-masing tidak pernah membuat saya maupun istri merasa bahwa kami kurang memiliki kebersamaan. Dalam kesibukan masing-masing, sejauh apapun kami terpisah secara geografis, kami selalu merasa menemani dan ditemani satu sama lain. Dan saya rasa, mungkin ini ada hubungannya dengan momen setiap akan berpisah.
“Abi  hati-hati lho ya, nggak boleh jaga kesehatan, makan teratur, tidur jangan terlalu malam,  Nggak boleh banyak makan mie instan ! Itu membahayakan diri sendiri dan orang lain. Nanti kalau ada….” Kutipan ini adalah contoh ucapan yang sering disampaikan istri padaksaya sebelum kami berpisah.
Bentuk kekhawatirannya yang mungkin bagi orang lain berlebihan (karena diucapkan berulang-ulang dan panjang lebar) inilah yang menjadi bekal bagiku selama berjauhan dengannya. Pesan itu membuat saya merasa nyaman sekali di hati dan perasaan.
Aku, tentu saja, jauh lebih cerewet dan lebay: “Aduuh nda jauh dari abi! Bunda juga jaga kesehatan bunda dan dede yang ada di perut, banyak istrihata, selalu berfikir positif, makan buah sama sayurnya dibanyakin, dong! Vitaminnya jangan lupa! Kalo bisa jangan sampe minum obat tapi kalo udah terpaksa gpp dsb….blablabla…..
Dan karena saya bisa memaksimalkan kemampuank saya untuk mengoceh terus jika tidak dihentikan, tak ada cara lain bagi istri saya selain berjanji memenuhi permintaank saya tersebut satu per satu…hahhaha. Saat berjauhan, kami sudah sama-sama tenang. Saya tenang karena telah memberikan seribu pesan (meskipun akhirnya hanya dilaksanakan satu-dua!), sementara istri saya tenang karena melihat saya ada bersamanya melalui seperangkat doa panjang.
Jadi, terima kasih atas perhatiannya. Tak perlu kasihan, karena kami orang-orang yang diberi nikmat. Tak perlu waswas berlebihan, karena insyaAllah kami sepenuhnya sadar atas ujian yang datang bersama nikmat itu dan menyerahkannya kembali padaNya. Kami suami istri yang selalu bersama, tak pernah terpisahkan. Ini tak ada hubungannya dengan kuantitas pertemuan fisik, karena sang hatilah yang bertugas. Anugerah terindah dari Allah SWT untuk kami sejak 10 tahun lalu. Alhamdulillah
Salam bahagia


Kesibukan VS Kebersamaan


Ternyata Kurikulum 2013 sukses menyita sebagian besar waktu, pikiran, dan tenagaku. Huh !
Tapi, kalau dipikir-pikir kesibukan yang seperti itu bagus juga. Terutama untuk orang yang punya bakat sering terserang perasaan gundah atau gelisah tak menentu (atau dalam bahasa sekarang: galau!). Dan mungkin saya termasuk di dalamnya.
Dalam kehidupan pernikahan saya, saya mencatat ‘penyakit’ itu sangat mengganggu apalagi di saat istri saya jadi semakin manja karena masa kehamilannya. Sering saya menjadi terlarut dan merenunginya terus-menerus. Betapa susahnya istri saya menjalani masa kehamilan dan melakukan kewajiban sebagai istri yang jauh dari suami harus kuliah, mengajar, mengurusi kedua anak saya, menjaga rumah dan merawat orang tua.
Syukur alhamdulillah, ditengah kesibukannya mengajar, kuliah, belajar, dan sebagainya. Beliau sama seklai tidak mengeluh dengan keadaan ini, bahkan kami jarak memisahkan kami tidak lebih dari ujian yang kami aggap adalah ibadah mencari ridho Allah SWT. Mengobrol tak harus setiap hari. Komunikasi via telephon kami lakukan secara intennsif. Sekedar melepas kangen dan berbagi cerita tentang keadaan kami masing masing.
Bertemu sekali dalam seminggi terasa sebagai anugerah yang luar biasa untuk kami .
Banyak komentar kepada istri saya tercinta terkait kondisi kami ini. Mulai dari candaan sampai tanggapan serius.  Yang tersering dan paling membingungkanku adalah pernyataan-pernyataan penuh rasa kasihan atau waswas seperti contoh berikut.
1.       “Kasihan amat suaminya nggak di rumah, anak sudah dua dan sedang mengandung pula” itu salah satunya
Alhamdulillah kami selalu saling mendampingi 24 jam sehari, 7 hari seminggu, 12 bulan setahun, tanpa bergantung pada kuantitas tatap muka atau mengobrol! Itu jawaban kami
2.       “Kalo saling berjauhan gitu kan banyak godaan. Kalo masing-masing tergoda sama yang lain gimana? Itu salah satunya
InsyaAllah kami saling percaya dan Allah yang Maha Menjaga ! Itu jawaban kami

Dengan adanya siklus hari-hari saat tinggal seatap dan hari-hari saat berjauhan, Kami “saya dan istri” menikmati begitu banyak hal. Aku sangat terbiasa untuk sedih dan khawatir setiap saya pergi ke Cikarang, dan terbiasa pula untuk gembira berbunga-bunga setiap jadwal pulang kampung.
Begitu pula dengan istri saya. Setelah beberapa lama tidak bertemu, tingkahnya saat bertemu kembali dengan saya tak berbeda dari ekspresi antusias dan kebahagiaan sederhana seorang istri. Nah, jadi di mana letak kasihannya? Bukankah kami pasangan yang sangat beruntung dan akan menjadi tak tahu diri kalau tak mensyukurinya? (Maka nikmat mana lagi yang kau dustakan, hai manusia!)
Saat-saat akan berpisah dan bertemu kembali selalu menjadi momen istimewa bagi kami. Sementara itu, masa saat berjauhan di antaranya pun terasa sebagai nikmat dan berkah tersendiri. Kami tidak hanya sama-sama mendapat kesempatan untuk berdikari dan fokus berkarya di bidang masing-masing.
Banyak berjauhan dan punya kesibukan masing-masing tidak pernah membuat saya maupun istri merasa bahwa kami kurang memiliki kebersamaan. Dalam kesibukan masing-masing, sejauh apapun kami terpisah secara geografis, kami selalu merasa menemani dan ditemani satu sama lain. Dan saya rasa, mungkin ini ada hubungannya dengan momen setiap akan berpisah.
“Abi  hati-hati lho ya, nggak boleh jaga kesehatan, makan teratur, tidur jangan terlalu malam,  Nggak boleh banyak makan mie instan ! Itu membahayakan diri sendiri dan orang lain. Nanti kalau ada….” Kutipan ini adalah contoh ucapan yang sering disampaikan istri padaksaya sebelum kami berpisah.
Bentuk kekhawatirannya yang mungkin bagi orang lain berlebihan (karena diucapkan berulang-ulang dan panjang lebar) inilah yang menjadi bekal bagiku selama berjauhan dengannya. Pesan itu membuat saya merasa nyaman sekali di hati dan perasaan.
Aku, tentu saja, jauh lebih cerewet dan lebay: “Aduuh nda jauh dari abi! Bunda juga jaga kesehatan bunda dan dede yang ada di perut, banyak istrihata, selalu berfikir positif, makan buah sama sayurnya dibanyakin, dong! Vitaminnya jangan lupa! Kalo bisa jangan sampe minum obat tapi kalo udah terpaksa gpp dsb….blablabla…..
Dan karena saya bisa memaksimalkan kemampuank saya untuk mengoceh terus jika tidak dihentikan, tak ada cara lain bagi istri saya selain berjanji memenuhi permintaank saya tersebut satu per satu…hahhaha. Saat berjauhan, kami sudah sama-sama tenang. Saya tenang karena telah memberikan seribu pesan (meskipun akhirnya hanya dilaksanakan satu-dua!), sementara istri saya tenang karena melihat saya ada bersamanya melalui seperangkat doa panjang.
Jadi, terima kasih atas perhatiannya. Tak perlu kasihan, karena kami orang-orang yang diberi nikmat. Tak perlu waswas berlebihan, karena insyaAllah kami sepenuhnya sadar atas ujian yang datang bersama nikmat itu dan menyerahkannya kembali padaNya. Kami suami istri yang selalu bersama, tak pernah terpisahkan. Ini tak ada hubungannya dengan kuantitas pertemuan fisik, karena sang hatilah yang bertugas. Anugerah terindah dari Allah SWT untuk kami sejak 10 tahun lalu. Alhamdulillah
Salam bahagia


Sabtu, 06 Desember 2014

Ungkapan Terdalam Untuk Bunda

Ungkapan Terdalam Untuk Bunda


Biismillahirrahmanirrahim.
Assalamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh.

Cinta itu perlu pembuktian
Cinta seorang suami terhadap istrinya adalah seperti kerja dalam proses Membentuk, Membangun, Merawat keluarga menjadi Keluarga Sakinah mawaddah dan warokhmah.


Materi itu relatif, tergantung penyikapan kita akan rasa syukur dengan rezeki yang diberikan Allah
Tapi menjadi Kaya adalah suatu keharusan, dan menjadi miskin harus kita hindarkan.
Maka penyeimbangan antara makna kaya dan miskin dalam lingkar relative kita sebut dengan nama
SEDERHANA tapi BERSAHAJA.


Istri kita adalah bentuk nyata dari Cinta kita padanya

Abi Cinta Bunda...
“Engkau yang menemaniku, disaat dulu aku tak punya apa-apa
Lalu perlahan, kita arungi laut kehidupan ini….
Kadang gelombang laut itu, membuat tubuh kita bergoncang-goncang
Tapi tangan kita selalu berpegangan erat Dan tak mau lepas…….

Istriku….
Aku tak pernah tahu jarak umur dan ajal kita
Tapi yang kutahu selalu
Aku ingin selalu disini
Bersamamu
Menjadi suamimu
Dan engkau adalah istriku satu-satunya
Tak tergantikan
Hingga Surga tempat kita berkumpul lagi
Bersama anak-anak kita….
Maka ditengah laut kehidupan ini
Disaat tubuh bergoncang karena gelombang
Maka yang ada dimataku
Hanya burung Camar yang terbang
Sambil bertasbih…..

“Ya Rabbana…
Karuniakanlah kebahagiaan Iman, Kebahagiaan Islam, dan Kenikmatan Dunia dan akhirat
Pada mereka, yang selalu menjaga Cinta di Langit hati Istrinya….”
Sayangku….
Aku mencintaimu,
Abi Cinta Bunda …
Karena Allah …
Selamanya tak tergantikan…..



JALANI SEMUA DENGAN NIAT IBADAH

JALANI SEMUA DENGAN NIAT IBADAH
share pengalaman pribadi
Segala puji bagi Alloh yang telah menciptakan laki-laki dan perempuan serta menjadikan rasa kasih dan sayang di antara keduanya dan menganugrahkan nikmat pernikahan kepada hamba-Nya, sehingga dengannya hati menjadi tenang.
Sholawat dan salam semoga terlimpahkan kepada Nabi yang diutus sebagai rahmat bagi semesta alam.

Kehidupan rumah tangga yang barakah dimulai dari memilih pasangan hidup yang sholeh dan melalui pintu gerbangnya dengan selamat. Sering kali laki laki dan perempuan lebih mengutamakan cinta daripada agama pasangannya. Padahal cinta sejati adalah cinta yang tumbuh setelah menikah.
Proses menuju pernikahan yang barakah bukanlah sesuatu yang terjadi begitu saja, tetapi memerlukan usaha yang besar dari kedua belah pihak. Dan untuk mendapatkan pernikahan yang barakah seperti yang dicita-citakan setiap muslim dan muslimah, tidak semudah membalikkan tangan. Pemahaman ilmu syar’i dari masing-masing pihak memegang peran penting untuk mewujudkan cita-cita tersebut, mengingat dalam proses tersebut banyak permasalahan yang akan timbul. Disinilah salah satu hikmah diwajibkannya bagi setiap muslim untuk mencari ilmu. Sebab dengan ilmu ini kita akan mampu menjalaninya dengan sabar, istiqomah dan tetap menjaga adab dalam berusaha.
kebetulan kami menikah tahun 2004.
awalnya memang sulit, khususnya menyeimbangkan pemenuhan kebutuhan hidup.
Saat ini istri saya sedang kuliah semestester akhir di Universitas Terbuka (UT) POKJAR Purwokerto UPBJJ Slawi jurusan Pendidikan Usia Dini jenjang strata S1.  
Alhamdulillah sekarang sudah di semester  9, bahkan hari ini Minggu, 6 Desember 2014 istri saya sedang melaksanakan Ujian Akhir  Semester hari ke-2.
Kedua anak kami : Alifa Maulina Zahra (Kelas 4 SD) dan Bequem Saidah Kamila (12-12-2009) dan insya Allah bulan maret akan lahir anak  kami yang ke-3. Semoga nanti lahir dengan keadaan sehat jasmani dan rokhani, selamat dan berjenis kelamin laki laki. kami mempunyai mimpi yang sangat besar sekali yakni anak-anak yang harus lebih sukses dari kami.

Walaupun dengan segala keterbatasan, waktu, tenaga dan financial. Menurut saya semua tergantung dari masing masing pribadi orang. Yang benar benar harus dipahami adalah rezeki dari Allah SWT, Allahlah yang mengatur dan rezeki bisa datang dari tangan siapa saja. Mungkin rezeki Allah datang melalui tangan tangan orang tua kami, pekerjaan yang kami lakukan. Dan masih banyak jalan Allah SWT memberikan kami rezeki. Kami yakin itu.

Semoga kami bisa mewujudkan impian itu dalam waktu dekat ini
1.    Semoga SK PNS saya bisa cepet di terbitan
2.    Semoga Allah memudahkan urusan study istri saya, yang insya Allah kalau tidak ada halangan bulan April 2015 wisuda
3.    Semoga Keluarga kami menjadi keluarga yang di rahmati dan di berkahi Allah SWT, menjadi keluarga yang sakinah mawaddah dan warokhmah
4.    Semoga Anak anak kami menjadi orang yang sukses dan selalu bahagia. Menjadi genenrasi generasi baru di kampung kami tercinta. DESA LEBAKGOWAH – LEBAKSIU - TEGAL.

Aamiin… 

Kisah seekor ulat dan Nabi DAUD A.S

 Dalam sebuah kitab Imam Al-Ghazali menceritakan pada suatu ketika tatkala Nabi Daud a.s. sedang duduk dalam suraunya sambil membaca kitab az-Zabur, dengan tiba-tiba dia terpandang seekor ulat merah pada debu.

Lalu Nabi Daud a.s. berkata pada dirinya, "Apa yang dikehendaki Allah dengan ulat ini?"

Sebaik sahaja Nabi Daud selesai berkata begitu, maka Allah pun mengizinkan ulat merah itu berkata-kata. Lalu ulat merah itu pun mula berkata-kata kepada Nabi Daud a.s.
"Wahai Nabi Allah! Allah S.W.T telah mengilhamkan kepadaku untuk membaca 'Subhanallahu walhamdulillahi wala ilaha illallahu wallahu akbar' setiap hari sebanyak 1000 kali dan pada malamnya Allah mengilhamkan kepadaku supaya membaca 'Allahumma solli ala Muhammadin annabiyyil ummiyyi wa ala alihi wa sohbihi wa sallim' setiap malam sebanyak 1000 kali.

Setelah ulat merah itu berkata demikian, maka dia pun bertanya kepada Nabi Daud a.s. "Apakah yang dapat kamu katakan kepadaku agar aku dapat faedah darimu?"

Akhirnya Nabi Daud menyadari  akan kesalahan kerana memandang remeh akan ulat tersebut, dan dia sangat takut kepada Allah S.W.T. maka Nabi Daud a.s. pun bertaubat dan menyerah diri kepada Allah S.W.T.

Begitulah sikap para Nabi a.s. apabila mereka menyadari kesalahan  yang telah dilakukan maka dengan segera mereka akan bertaubat dan menyerah diri kepada Allah S.W.T.

Jumat, 28 November 2014

3 Jawaban Yang Membuktikan Allah SWT Itu Ada

Ada seorang pemuda yang lama menjalani pendidikan di luar negeri namun tidak pernah belajar agama Islam, kini kembali ke tanah air. Sesampainya di rumah ia diminta kedua orang tuanya untuk belajar agama Islam, namun ia memberi syarat agar dicarikan guru agama yang bisa menjawab 3 pertanyaan yang selama ini mengganjal dihatinya. Akhirnya orang tua pemuda itu mendapatkan orang tersebut, seorang kyai dari pinggiran kota.
Pemuda : “Anda siapa dan apakah bisa menjawab pertanyaan-pertanya an saya?“
Kyai : “Saya hamba Allah dan dengan izin-Nya saya akan menjawab pertanyaan anda.“
Pemuda : “Anda yakin? Sedangkan Profesor di Amerika dan banyak orang yang pintar tidak mampu menjawab pertanyaan saya.“
Kyai : “Saya akan mencoba sejauh kemampuan saya.“
Pemuda : “Saya ada 3 pertanyaan :
  1. Kalau memang Tuhan itu ada, tunjukkan wujud Tuhan kepada saya !
  2. Kalau memang benar ada takdir, tunjukkan takdir itu pada saya !
  3. Kalau syaitan diciptakan dari api kenapa dimasukan ke neraka yang dibuat dari api, tentu tidak menyakitkan buat syaitan. Sebab mereka memiliki unsur yang sama. Apakah Tuhan tidak pernah berfikir sejauh itu?“
Tiba-tiba kyai tersebut menampar pipi pemuda tadi dengan keras.
Pemuda : (sambil menahan sakit) “Hei ! Kenapa anda marah kepada saya?“
Kyai : “Saya tidak marah. Tamparan itu adalah jawaban saya atas 3 pertanyaan yang anda ajukan kepada saya.“
Pemuda : “Saya sungguh-sungguh tidak mengerti.“
Kyai : “Bagaimana rasanya tamparan saya?“
Pemuda : “Tentu saja saya merasakan sakit.“
Kyai : “Jadi anda percaya bahwa sakit itu ada?“
Pemuda : “Ya!“
Kyai : “Tunjukan pada saya wujud sakit itu!“
Pemuda : “Saya tidak bisa.“
Kyai : “Itulah jawaban pertanyaan pertama…kita semua merasakan kewujudan Tuhan tanpa mampu melihat wujudnya.”
Kyai : “Apakah tadi malam anda bermimpi akan ditampar oleh saya?“
Pemuda : “Tidak.
Kyai : “Apakah pernah terfikir oleh anda akan menerima tamparan dari saya hari ini?“
Pemuda : “Tidak.“
Kyai : “Itulah yang dinamakan takdir.“
Kyai : “Terbuat dari apa tangan yang saya gunakan untuk menampar anda?“
Pemuda : ”Kulit.“
Kyai : ”Terbuat dari apa pipi anda?“
Pemuda : ”Kulit.“
Kyai : ”Bagaimana rasanya tamparan saya?“
Pemuda : ”Sakit.“
Kyai : ”Walaupun syaitan dijadikan dari api dan neraka juga terbuat dari api, jika Tuhan menghendaki maka neraka akan menjadi tempat yang menyakitkan untuk syaitan. Semoga kita bukan termasuk orang-orang yang ditempatkan bersama syaitan di neraka…“
Pemuda itu langsung tertunduk dan memeluk kyai tersebut sambil memohonnya untuk mengajarkan Islam lebih banyak lagi.