Senin, 08 Agustus 2011

hikmah di balik puasa ramadhan



Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.
Berikut adalah beberapa hikmah di balik puasa Ramadhan yang kami sarikan dari beberapa kalam ulama. Semoga bermanfaat.
1. Menggapai Derajat Takwa
Allah Ta’ala berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al Baqarah: 183). Ayat ini menunjukkan bahwa di antara hikmah puasa adalah agar seorang hamba dapat menggapai derajat takwa dan puasa adalah sebab meraih derajat yang mulia ini. Hal ini dikarenakan dalam puasa, seseorang akan melaksanakan perintah Allah dan menjauhi setiap larangan-Nya. Inilah pengertian takwa. Bentuk takwa dalam puasa dapat kita lihat dalam berbagai hal berikut.
Pertama, orang yang berpuasa akan meninggalkan setiap yang Allah larang ketika itu yaitu dia meninggalkan makan, minum, berjima’ dengan istri dan sebagainya yang sebenarnya hati sangat condong dan ingin melakukannya. Ini semua dilakukan dalam rangka taqorrub atau mendekatkan diri pada Allah dan meraih pahala dari-Nya. Inilah bentuk takwa.
Kedua, orang yang berpuasa sebenarnya mampu untuk melakukan kesenangan-kesenangan duniawi yang ada. Namun dia mengetahui bahwa Allah selalu mengawasi diri-Nya. Ini juga salah bentuk takwa yaitu merasa selalu diawasi oleh Allah.
Ketiga, ketika berpuasa, setiap orang akan semangat melakukan amalan-amalan ketaatan. Dan ketaatan merupakan jalan untuk menggapai takwa.[1] Inilah sebagian di antara bentuk takwa dalam amalan puasa.
2. Hikmah di Balik Meninggalkan Syahwat dan Kesenangan Dunia
Di dalam berpuasa, setiap muslim diperintahkan untuk meninggalkan berbagai syahwat, makanan dan minuman. Itu semua dilakukan karena Allah. Dalam hadits qudsi[2], Allah Ta’ala berfirman,
يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِى
Dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku”.[3]
Di antara hikmah meninggalkan syahwat dan kesenangan dunia ketika berpuasa adalah:
Pertama, dapat mengendalikan jiwa. Rasa kenyang karena banyak makan dan minum, kepuasan ketika  berhubungan dengan istri, itu semua biasanya akan membuat seseorang lupa diri, kufur terhadap nikmat, dan menjadi lalai. Sehingga dengan berpuasa, jiwa pun akan lebih dikendalikan.
Kedua, hati akan menjadi sibuk memikirkan hal-hal baik dan sibuk mengingat Allah. Apabila seseorang terlalu tersibukkan dengan kesenangan duniawi dan terbuai dengan makanan yang dia lahap, hati pun akan menjadi lalai dari memikirkan hal-hal yang baik dan lalai dari mengingat Allah. Oleh karena itu, apabila hati tidak tersibukkan dengan kesenangan duniawi, juga tidak disibukkan dengan makan dan minum ketika berpuasa, hati pun akan bercahaya, akan semakin lembut, hati pun tidak mengeras dan akan semakin mudah untuk tafakkur (merenung) serta berdzikir pada Allah.
Ketiga, dengan menahan diri dari berbagai kesenangan duniawi, orang yang berkecukupan akan semakin tahu bahwa dirinya telah diberikan nikmat begitu banyak dibanding orang-orang fakir, miskin dan yatim piatu yang sering merasakan rasa lapar. Dalam rangka mensyukuri nikmat ini, orang-orang kaya  pun gemar berbagi dengan mereka yang tidak mampu.
Keempat, dengan berpuasa akan mempersempit jalannya darah. Sedangkan setan berada pada jalan darahnya manusia. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِى مِنِ ابْنِ آدَمَ مَجْرَى الدَّمِ
Sesungguhnya setan mengalir dalam diri manusia pada tempat mengalirnya darah.”[4] Jadi puasa dapat menenangkan setan yang seringkali memberikan was-was. Puasa pun dapat menekan syahwat dan rasa marah. Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan puasa sebagai salah satu obat mujarab bagi orang yang memiliki keinginan untuk menikah namun belum kesampaian.[5]
3. Mulai Beranjak Menjadi Lebih Baik
Di bulan Ramadhan tentu saja setiap muslim harus menjauhi berbagai macam maksiat agar puasanya tidak sia-sia, juga agar tidak mendapatkan lapar dan dahaga saja. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الجُوْعُ وَالعَطَشُ
Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga saja.”[6]
Puasa menjadi sia-sia seperti ini disebabkan bulan Ramadhan masih diisi pula dengan berbagai maksiat. Padahal dalam berpuasa seharusnya setiap orang berusaha menjaga lisannya dari rasani orang lain (baca: ghibah), dari berbagai perkaataan maksiat, dari perkataan dusta, perbuatan maksiat dan hal-hal yang sia-sia.
Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta malah mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan.”[7]
Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَيْسَ الصِّيَامُ مِنَ الأَكْلِ وَالشَّرَبِ ، إِنَّمَا الصِّيَامُ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ ، فَإِنْ سَابَّكَ أَحَدٌ أَوْ جَهُلَ عَلَيْكَ فَلْتَقُلْ : إِنِّي صَائِمٌ ، إِنِّي صَائِمٌ
Puasa bukanlah hanya menahan makan dan minum saja. Akan tetapi, puasa adalah dengan menahan diri dari perkataan lagwu dan rofats. Apabila ada seseorang yang mencelamu atau berbuat usil padamu, katakanlah padanya, “Aku sedang puasa, aku sedang puasa”.”[8] Lagwu adalah perkataan sia-sia dan semisalnya yang tidak berfaedah.[9] Sedangkan rofats adalah istilah untuk setiap hal yang diinginkan laki-laki pada wanita[10] atau dapat pula bermakna kata-kata kotor.[11]
Oleh karena itu, ketika keluar bulan Ramadhan seharusnya setiap insan menjadi lebih baik dibanding dengan bulan sebelumnya karena dia sudah ditempa di madrasah Ramadhan untuk meninggalkan berbagai macam maksiat. Orang yang dulu malas-malasan shalat 5 waktu seharusnya menjadi sadar dan rutin mengerjakannya di luar bulan Ramadhan. Juga dalam masalah shalat Jama’ah bagi kaum pria, hendaklah pula dapat dirutinkan dilakukan di masjid sebagaimana rajin dilakukan ketika bulan Ramadhan. Begitu pula dalam bulan Ramadhan banyak wanita muslimah yang berusaha menggunakan jilbab yang menutup diri dengan sempurna, maka di luar bulan Ramadhan seharusnya hal ini tetap dijaga.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
وَإِنَّ أَحَبَّ الْعَمَلِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهُ وَإِنْ قَلَّ
“(Ketahuilah bahwa) amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang kontinu (ajeg) walaupun sedikit.”[12]
Ibadah dan amalan ketaatan bukanlah ibarat bunga yang mekar pada waktu tertentu saja. Jadi, ibadah shalat 5 waktu, shalat jama’ah, shalat malam, gemar bersedekah dan berbusana muslimah, bukanlah jadi ibadah musiman. Namun sudah seharusnya di luar bulan Ramadhan juga tetap dijaga. Para ulama seringkali mengatakan, “Sejelek-jelek kaum adalah yang mengenal Allah (rajin ibadah, -pen) hanya pada bulan Ramadhan saja.”
Ingatlah pula pesan dari Ka’ab, “Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadhan lantas terbetik dalam hatinya bahwa setelah lepas dari Ramadhan akan berbuat maksiat pada Rabbnya, maka sungguh puasanya itu tertolak (tidak bernilai apa-apa).”[13]
4. Kesempatan untuk Saling Berkasih Sayang dengan Si Miskin dan Merasakan Penderitaan Mereka
Puasa akan menyebabkan seseorang lebih menyayangi si miskin. Karena orang yang berpuasa pasti merasakan penderitaan lapar dalam sebagian waktunya. Keadaan ini pun ia rasakan begitu lama. Akhirnya ia pun bersikap lemah lembut terhadap sesama dan berbuat baik kepada mereka. Dengan sebab inilah ia mendapatkan balasan melimpah dari sisi Allah.
Begitu pula dengan puasa seseorang akan merasakan apa yang dirasakan oleh orang-orang miskin, fakir, yang penuh kekurangan. Orang yang berpuasa akan merasakan lapar dan dahaga sebagaimana yang dirasakan oleh mereka-mereka tadi. Inilah yang menyebabkan derajatnya meningkat di sisi Allah.[14]
Inilah beberapa hikmah syar’i yang luar biasa di balik puasa Ramadhan. Oleh karena itu, para salaf sangatlah merindukan bertemu dengan bulan Ramadhan agar memperoleh hikmah-hikmah yang ada di dalamnya. Sebagian ulama mengatakan, “Para salaf biasa berdoa kepada Allah selama 6 bulan agar dapat berjumpa dengan bulan Ramadhan. Dan 6 bulan sisanya mereka berdoa agar amalan-amalan mereka diterima”.[15]
Hikmah Puasa yang Keliru
Adapun hikmah puasa yang biasa sering dibicarakan sebagian kalangan bahwa puasa dapat menyehatkan badan (seperti dapat menurunkan bobot tubuh, mengurangi resiko stroke, menurunkan tekanan darah, dan mengurangi resiko diabetes[16]), maka itu semua adalah hikmah ikutan saja[17] dan bukan hikmah utama. Sehingga hendaklah seseorang meniatkan puasanya untuk mendapatkan hikmah syar’i terlebih dahulu dan janganlah dia berpuasa hanya untuk mengharapkan nikmat sehat semata. Karena jika niat puasanya hanya untuk mencapai kenikmatan dan kemaslahatan duniawi, maka pahala melimpah di sisi Allah akan sirna walaupun dia akan mendapatkan nikmat dunia atau nikmat sehat yang dia cari-cari.
Allah Ta’ala berfirman,
مَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الآخِرَةِ نزدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ وَمَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَا لَهُ فِي الآخِرَةِ مِنْ نَصِيبٍ
Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat.” (QS. Asy Syuraa: 20)
Ibnu ‘Abbas mengatakan, “Orang yang gemar berbuat riya’ akan diberi balasan kebaikan mereka di dunia. Mereka sama sekali tidak akan dizholimi. Namun ingatlah, barangsiapa yang melakukan amalan puasa, amalan shalat atau amalan shalat malam namun hanya ingin mengharapkan dunia, maka balasan dari Allah: “Allah akan memberikan baginya dunia yang dia cari-cari. Akan tetapi, amalannya akan lenyap di akhirat nanti karena mereka hanya ingin mencari keuntungan dunia. Di akhirat, mereka juga akan termasuk orang-orang yang merugi”.”[18]
Sehingga yang benar, puasa harus dilakukan dengan niat ikhlas untuk mengharap wajah Allah. Sedangkan nikmat kesehatan, itu hanyalah hikmah ikutan saja dari melakukan puasa, dan bukan tujuan utama yang dicari-cari. Jika seseorang berniat ikhlas dalam puasanya, niscaya nikmat dunia akan datang dengan sendirinya tanpa dia cari-cari. Ingatlah selalu nasehat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
مَنْ كَانَتِ الآخِرَةُ هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ غِنَاهُ فِى قَلْبِهِ وَجَمَعَ لَهُ شَمْلَهُ وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِىَ رَاغِمَةٌ وَمَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ وَفَرَّقَ عَلَيْهِ شَمْلَهَ وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلاَّ مَا قُدِّرَ لَهُ
Barangsiapa yang niatnya adalah untuk menggapai akhirat, maka Allah akan memberikan kecukupan dalam hatinya, Dia akan menyatukan keinginannya yang tercerai berai, dunia pun akan dia peroleh dan tunduk hina padanya. Barangsiapa yang niatnya adalah untuk menggapai dunia, maka Allah akan menjadikan dia tidak pernah merasa cukup, akan mencerai beraikan keinginannya, dunia pun tidak dia peroleh kecuali yang telah ditetapkan baginya.”[19]
Adapun hadits yang mengatakan,
صُوْمُوْا تَصِحُّوْا
Berpuasalah, niscaya kalian akan sehat.” Perlu diketahui bahwa hadits semacam ini adalah hadits yang lemah (hadits dho’if) menurut ulama pakar hadits.[20]
Semoga kita bisa menarik hikmah berharga di balik puasa kita di bulan penuh kebaikan, bulan Ramadhan.

hikmah utama puasa ramadhan

Bulan Ramadhan telah datang menghampiri kita. Bulan Ramadhan adalah bulan yang diliputi rahmat dan ampunan Allah SWT. Di bulan suci ini kaum Muslim diwajibkan untuk menjalankan ibadah puasa selama satu bulan penuh. Ibadah puasa Ramadhan merupakan ibadah wajib yang ada di dalam rukun Islam dengan menahan rasa lapar dan dahaga serta hal-hal lain yang dapat membatalkan puasa mulai dari terbit fajar di timur hingga terbenam matahari di barat.
Ibadah puasa Ramadhan memiliki hikmah utama berupa peningkatan ketakwaan kita sebagai hamba Ilahi. Allah SWT berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan kepada umat-umat sebelum kamu agar kamu menjadi orang-orang yang bertaqwa.” (QS 2: 183). Takwa adalah buah yang diharapkan dan dihasilkan dari menjalankan ibadah puasa selama satu bulan penuh. Hal itu akan menjadi perisai bagi kita agar tidak terjatuh ke dalam lembah kemaksiatan dan kehinaan.
Takwa merupakan tujuan paripurna dari ibadah puasa yang termanifestasi dalam beragam aktivitas dengan segala hikmah yang dikandungnya. Paling tidak ada enam hikmah utama yang dapat kita peroleh dari menjalankan ibadah puasa Ramadhan. Pertama, ibadah puasa Ramadhan melatih ketahanan rohani manusia untuk dapat mengendalikan hawa nafsu. Apabila seseorang sudah memiliki ketahanan rohani yang baik, maka ia akan dengan mudah menghadapi berbagai tantangan hidup dengan tetap berpijak pada jalan yang benar dan terjauh dari menghalalkan segala cara.
Kedua, ibadah puasa Ramadhan mendidik manusia untuk berlaku sabar. Perilaku sabar ini akan berkontribusi pada penguatan daya tahan rohani kita sebagai hamba Allah SWT dalam menjalani kehidupan ini baik dalam konteks hubungan sesama manusia (hablun minannas) maupun hubungan dengan Allah (hablun minallah).
Ketiga, memperkuat etos kerja. Ibadah puasa yang sungguh-sungguh dilakukan atas dasar keimanan pasti dilandaskan pada kesadaran dan keinginan untuk menggapai ridha Allah SWT. Apabila sikap itu terus dipelihara dan menjadi bagian tidak terpisahkan dari hidup kita, maka tentu akan berdampak pada penguatan etos kerja kita sehari-hari dalam rangka mencapai cita-cita duniawi yang diridhai Allah SWT.
Keempat, meningkatkan rasa syukur terhadap nikmat Allah SWT. Kesadaran manusia untuk bersyukur terhadap suatu nikmat Tuhan akan terjadi apabila nikmat itu hilang dan kemudian dapat diperoleh kembali. Saat menunaikan ibadah puasa Ramadhan kita untuk sementara waktu kehilangan berbagai nikmat duniawi, seperti makan dan minum. Ketika waktu berbuka puasa tiba kita kemudian tersadar sepenuhnya arti nikmat tersebut.
Kelima, melalui ibadah puasa Ramadhan kita dapat meningkatakan kesadaran untuk berperilaku displin. Keteraturan waktu saat sahur dan berbuka puasa merupakan perwujudan dari hal itu.
Keenam, ibadah puasa Ramadhan juga membawa manfaat bagi kesehatan jasmani kita. Sebagaimana hasil riset di dunia kesehatan selama ini perut merupakan salah satu sumber utama datangnya penyakit. Apabila perut kita terus disesaki makanan secara berlebihan, maka lambat laun akan muncul penyakit. Puasa memberi jeda bagi organ tubuh (perut) untuk memfilter makanan yang berpotensi mendatangkan penyakit dan mengolah yang lainnya menjadi vitamin yang menyehatkan.
Dengan menunaikan ibadah puasa Ramadhan pula, pola makan kita pun menjadi lebih tertata sehingga organ pencernaan memiliki waktu istirahat yang relatif cukup panjang. Dalam jangka panjang hal itu sangat baik bagi kelangsungan kesehatan kita. Terkait hal ini, Allah SWT berfirman, “Makan dan minumlah kamu dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS 7: 31)
Demikian enam hikmah utama yang dapat kita peroleh dari menunaikan ibadah puasa Ramadhan. Semoga pemahaman akan hikmah puasa tersebut mendorong kita semua kaum Muslim untuk lebih bersungguh-sungguh dalam menjalankan ibadah puasa Ramadhan tahun ini

RPP Pendidikan Agama Islam Kelas XII


SMK INFORMATIKA AMANAH BANGSA
TAHUN PELAJARAN 2011 / 2012

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)

A.    Identitas
Nama Sekolah                   : SMK AMANAH BANGSA
Mata Pelajaran                  : Pendidikan Agama Islam (PAI)
Kelas / Semester                : XII / I
Materi Pembelajaran         : Toleransi antar umat beragama
Standar Kompetensi         : 1. Memahami ayat ayat Al-qu’an tentang anjuran bertoleransi
Kompetensi Dasar             : 2.1. Memahami QS. Al-kafirun, QS. Yunus ayat 40-41, QS. Al-kahfi ayat 29
                                            2.2. Menjelaskan QS. Al-kafirun, QS. Yunus ayat 40-41, QS. Al-kahfi ayat 29
                                            2.3. Membiasakan perilaku toleransi seperti yang terkandung dalam QS. Al-kafirun, QS. Yunus ayat 40-41, QS. Al-kahfi ayat 29
Indikator                           :
1.      Kognitif
a.       Produk
·         Menjelaskan cara menghargai dan menghormati perbedaan antar umat beragama
·         Menjelaskan perbedaan antar umat beragama dilihat dari perspektif islam
·         Menjelaskan  perbedaan adaah sunatulloh
b.      Proses
·         Membaca QS. Al-kafirun, QS Yunus ayat 40-41, QS Al-kahfi ayat 29
·         Membaca dengan makhroj dantajwij yang benar

2.      Psikomor
Menggunakan Al-qur’an dan terjemahan untuk membaca dan menjelaskan QS. Al-kafirun, QS Yunus ayat 40-41, QS Al-kahfi ayat 29 kepada peserta didik

3.      Afektif
a.       saling menghargai
b.      saling menghormati
c.       tepo seliro
d.      tenggang rasa

B.     Tujuan Pembelajaran
1.      Kognitif
a.       Produk
·         Peserta didik secara benar membaca QS. Al-kafirun, QS Yunus ayat 40-41, QS Al-kahfi ayat 29
·         Peserta didik dapat menjelaskan QS. Al-kafirun, QS Yunus ayat 40-41, QS Al-kahfi ayat 29
b.      Proses
dijelaskan kandungan QS. Al-kafirun, QS Yunus ayat 40-41, QS Al-kahfi ayat 29
2.      Psikomotor
Menggunakan Al-qur’an dan terjemahan untuk membaca dan menjelaskan QS. Al-kafirun, QS Yunus ayat 40-41, QS Al-kahfi ayat 29 kepada peserta didik

3.      Afektif
·         Peserta didik danpendidik terlibat langsung dalam proses belajar mengajar (KBM) yangberpusat pada pendidik
·         Peserta didik dinilai dapat menggunakan sifat saling menghargai dan menghormati, tepo seliro, tenggang rasa dan tanggung jawab pada kehidupan antar umat beragama

C.     Materi Pembelajaran
1.      Kandungan surat QS. Al-kafirun
2.      Menghargai dan menghormati perbedaan antar manusia
3.      Menjelaskan perbedaan antar umat beragama dilihat dari perspektif islam
4.      Menjelaskan  perbedaan adaah sunatulloh

5.      Metode Pembelajaran
1.      Model Pembelajaran berdasarkan masalah
2.      ceramah, diskusi dan pemberian tugas

6.      Kegiatan Pembelajaran
Pertemuan ke-
Kegiatan Pembelajaran
Kegiatan Tatap Muka
Tugas Terstuktur
KM TT
1
1.      Kegiatan Pendahuluan
a.       Absensi
b.      Motivasi dan apresiasi :
·         Menjelaskan kandungan QS. Al-kafirun, salingmenghargai perbedaan antar manusia, tenggang rasa dan tepo seliro
c.       Menjelaskan Tujuan Pembelajaran
·         Menjelaskan Tujuan pembelajaran, kognitif, afektik, psikomotor, karakter dan ketrampilan sosial  
d.      Materi
·         Kandungan QS. Al-kafirun

2.      Kegiatan Inti
a.       Kandungan QS. Al-kafirun
·         membacanya sama seperti membaca ¼ Al-qur’an
·         QS. Al-kafirun dibaca Rasululloh setiap sebelum tidur
·         QS. Al-kafirun dibaca Rasululloh dalamberbagai sholat sunah rawtib

b.      kandungan umum QS. Al-kafirun
·         ikrar ketaukhidan / ketulusan taukhid (taukhid uluhiyah)
·         penolakan terhadap ketaukhidan selain kepada Alloh SWT
·         Alloh SWT menyuruh kepada Rasul memanggil orang kafir engan sebutan ya ayyuhal kafirun
·         ayat 2 dan 4 menjelaskan bahwa nabi Muhammad dan umatnya tidak menyembah selain pada Alloh SWT
·         ayat 3 dan 5 menjelakan bahwa orang kafir tidakmenyembah Alloh SWT
·         pengulangan ayat 2 dan 4 atau 3 dan 5 menjelaskan bahwa realitas larangan yang sifat total danmenyeluruh (waktu sekarang atau yangakan dating) dalam bentuk perilaku apapun
·         menyempurnakan peribadatan dengan lafadz lakum diinukum waliadin
·         ajaran islam tidak boleh dicampur dengan unsure ajaran agama manapun

c.       Kandungan khusus QS. Al-kafirun
·         Islam mengakui realitas keberagamaan agama lain
·         islam membenarkan berinteraksi dengan agama lain
·         islam tegas dalam ideologis ( kesyirikan, aqidan dan ritual ritual keagamaan)
·         tidak boleh ada pencampuran aqidah
·         tidak boleh saling mencampuri
·         islam melarang umatnya mengikuti ritual agam lain
·         islam melarang umatnya kerja sama dengan agama lain

d.      Mengormati dan menghargai perbedaan
·         Mengormati dan menghargai perbedaan dengan menghormati perbedaan itu sendiri
·         menghormati sesama
·         idakmembedakan SARA (suku, ras dan agama)
·         tidak memekasakan kehendak
·         berperilaku sopan
·         mengembangkan sikap toleransi
·         peduli terhadap sesama

e.       Perbedaan dalam perspektif islam
·         Karena berbeda beda itulah Alloh menciptakan manusia
·         yangberbeda hanya bentuk lahir, bathinnnya sama
·         perbedaan manusia dilihat dari berbagai potensi dan tanggung jawab serta tugas yang di embannya

f.       Perbedaan adalah Sunatulloh
·         Bukan suatu kebutaln ciptaan Alloh SWT ituberbedaa “anak kembar sekalipun cenderung berbeda, dan tidakmau disamakan”
·         dibalik perbedaan ada taqdir dari Alloh SWT (kebesaran)
·         menolak perbedaan sam saja dengan menetantang sunatulloh
·         perbedaanitu seperti pelangi “indah”
 
3.      Penutup
Pendidik menjelaskan kepada peserta didik kandungan QS. Al-kafirun dan mengingatkan supaya pertemuan selanjutnya lebih memahami




7.      Sumber Belajar
1.      Buku Pendidikan Agma Islam. Drs. Margiono, M. Pd dkk. Yudistira 2007
2.      situs internet. kebun hidayah

8.      Penilaian
a.       Dengan Tes (Pilihan ganda, isian, uraian) melalui tatap muka

No
Naskah Soal
Kunci Jawaban
Skor
1


25
2


25
3


25
4


25
Jumlah Skor
100

b.      Tugas terstruktur
Peserta didik diminta untukmencari artikel dari surat kabar dan atau situs internet kemudianmenuliskanisi informasinya dalam beberapa kalimat dengan urutan yangruntut dan mudah dipahami, setelah itu, mempresentasikan secara lisan isis informasi yang ditulis secara runtut dan jelas, kemudianmengajukan pertanyaan dan atau tanggapan informasi yang didengar (menyetujui, menolak, menambah pendapat) kemudian diberikan umpan balik  postif dari penguatan dari pendidik

c.       Kegiatan mandiri tidak terstruktur

d.      Penilaian pengamatan terhadap kreativitas siswa
No
Nama Siswa
Aspek yang dinilai
Klasifikasi
Ketr
Cekatan
Suka bertanya
Suka mendengarkan
Menjawab semua pertanyaan
Ketepatan mengumpulkan tugas
1








2








3








4








5










Bekasi,    Juli 2011
Mengetahui,
Kepala SMK AMANAH BANGSA                                                  Guru Mata Pelajaran




KAMAN JAYA, S. Kom                                                                   IBROHIM AJI, S. Pd. I