Sabtu, 17 Maret 2012

zakat, infaq dan shadaqoh

ZAKAT, INFAQ, DAN SHODAQOH

Zakat, infaq, dan shodaqoh merupakan kebuktian iman kita kepada allah dan sesama muslim yang membutuhkannya. Kalau kita melihat dari penggunaan ayat-ayat Al-Quran istilah shadaqah, zakat, dan infaq sebetulnya menunjuk kepada satu pengertian yaitu sesuatu yang dikeluarkan. Zakat, infaq dan shadaqah memiliki persamaan dalam peranannya memberikan kontribusi yang signifikan dalam pengentasan kemiskinan. Adapun perbedaannya yaitu zakat hukumnya wajib sedangkan infaq dan sedekah hukumnya sunnah. Atau zakat yang dimaksudkan adalah sesuatu yang wajib dikeluarkan, sementara infaq dan shadaqah adalah istilah yang digunakan untuk sesuatu yang tidak wajib dikeluarkan. Jadi pengeluaran yang sifatnya sukarela itu yang disebut infaq dan shadaqah. zakat ditentukan nisabnya sedangkan infaq dan sedekah tidak memiliki batas, zakat ditentukan siapa saja yang berhak menerimanya sedangkan infaq boleh diberikan kepada siapa saja. Perbedaannya juga dapat dicermati antara lain yaitu :

  1. Zakat itu sifatnya wajib dan adanya ketentuannya/batasan jumlah harta yang harus zakat dan siapa yang boleh menerima.
  2. Infaq : sumbangan sukarela atau seikhlasnya (materi)
  3. Sedekah: lebih luas dari infaq, karena yang disedekahkan tidak terbatas pada materi saja.

Sedangkan pengertian sedekah, zakat dan infaq yaitu sebagai berikut :

 a.      Sedekah  

Berasal dari kata shadaqa yang berarti benar. Orang yang suka bersedekah adalah orang yang benar pengakuan imannya. Adapun secara terminologi syariat shadaqah makna asalnya adalah tahqiqu syai'in bisyai'i, atau menetapkan / menerapkan sesuatu pada sesuatu. Sikapnya sukarela dan tidak terikat pada syarat-syarat tertentu dalam pengeluarannya baik mengenai jumlah, waktu dan kadarnya. Atau pemberian sukarela yang dilakukan oleh seseorang kepada orang lain, terutama kebada orang-orang miskin setiap kesempatan terbuka yang tidak di tentukan baik jenis, jumlah maupun waktunya, sedekah tidak terbatas pada pemberian yang bersifat material saja tetapi juga dapat berupa jasa yang bermanfaat bagi orang lain. Bahkan senyum yang dilakukan dengan ikhlas untuk menyenangkan orang lain termasuk kategori sedekah. Shadaqoh mempunyai cakupan yang sangat luas dan digunakan al-qur'an untuk mencakup segala jenis sumbangan. Sedekah berarti memberi derma, termasuk memberikan derma untuk mematuhi hukum dimana kata zakat digunakan didalam al-qur'an dan sunah. Zakat telah disebut pula sedekah karena zakat merupakan sejenis derma yang diwajibkan sedangkan sedekah adalah sukarela, zakat dikumpulkan oleh pemerintah sebagai suatu pengutan wajib, sedegkan sedekah lainnya dibayarkan secara sukarela. Jumlah dan nisab zakat di tentukan, sedangkan jumlah sedekah yang lainya sepenuhnya tergantung keinginan yang menyumbang.
Pengertian sedekah sama dengan pengertian infaq, termasuk juga hukum dan ketentuan-ketentuannya. Hanya saja shadaqoh mempunyai makna yang lebih luas lagi dibanding infaq. Jika infaq berkaitan dengan materi, sedekah memiliki arti lebih luas, menyangkut juga hal yang bersifat nonmateriil. Shadaqah ialah segala bentuk nilai kebajikan yang tidak terikat oleh jumlah, waktu dan juga yang tidak terbatas pada materi tetapi juga dapat dalam bentuk non materi, misalnya menyingkirkan rintangan di jalan, menuntun orang yang buta, memberikan senyuman dan wajah yang manis kepada saudaranya, menyalurkan syahwatnya pada istri dsb. Dan shadaqoh adalah ungkapan kejujuran (shiddiq) iman seseorang. Hadits riwayat Imam Muslim dari Abu Dzar, Rasulullah menyatakan bahwa jika tidak mampu bersedekah dengan harta, maka membaca tasbih, takbir, tahmid, tahlil, berhubungan suami-istri, atau melakukan kegiatan amar ma’ruf nahi munkar adakah sedekah.
Dalam hadist Rasulullah memberi jawaban kepada orang-orang miskin yang cemburu terhadap orang kaya yang banyak bershadaqah dengan hartanya, beliau bersabda: "Setiap tasbih adalah shadaqah, setiap takbir shadaqah, setiap tahmid shadaqah, setiap amar ma'ruf adalah shadaqah, nahi munkar shadaqah dan menyalurkan syahwatnya kepada istri shadaqah". (HR. Muslim).

b.      Zakat 

Secara bahasa (lughat), berarti : tumbuh; berkembang dan berkah (HR. At-Tirmidzi) atau dapat pula berarti membersihkan atau mensucikan (QS. At-Taubah : 10). Seorang yang membayar zakat karena keimanannya nicaya akan memperoleh kebaikan yang banyak. Allah SWT berfirman : "Pungutlah zakat dari sebagian kekayaan mereka dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka.". (QS : At-Taubah : 103). Sedangkan menurut terminologi syari'ah (istilah syara') zakat berarti kewajiban atas harta atau kewajiban atas sejumlah harta tertentu untuk kelompok tertentu dalam waktu tertentu. Zakat juga berarti derma yang telah ditetapkan jenis, jumlah, dan waktu suatu kekayaan atau harta yang wajib diserahkan; dan pendayagunaannya pun ditentukan pula, yaitu dari umat Islam untuk umat Islam. Atau Zakat adalah nama dari sejumlah harta tertentu yang telah mencapai syarat tertentu (nishab) yang diwajibkan Allah SWT untuk dikeluarkan dan diberikan kepada yang berhak menerimanya dengan persyaratan tertentu pula (QS. 9:103 dan QS. 30:39).
Ulama' Hanafiyyah mendefinisikan zakat dengan menjadikan hak milik bagian harta tertentu dan harta tertentu untuk orang tertentu yang telah ditentukan oleh Syari' karena Allah. Demikian halnya menurut mazhab Imam Syafi'i zakat adalah sebuah ungkapan keluarnya harta atau tubuh sesuai dengan secara khusus. Sedangkian menurut mazhab Imam Hambali, zakat ialah hak yang wajib dikeluarkan dari harta yang khusus untuk kelompok yang khusus pula, yaitu kelompok yang disyaratkan dalam Al-Qur'an. Zakat mempunyai fungsi yang jelas untuk menyucikan atau membersihkan harta dan jiwa pemberinya.

c.       Infaq

Berasal dari kata anfaqa yang berarti mengeluarkan sesuatu (harta) untuk kepentingan sesuatu. Menurut terminologi syariat, infaq berarti mengeluarkan sebagian dari harta atau pendapatan/penghasilan untuk suatu kepentingan yang diperintahkan Islam. Jika zakat ada nishabnya, infaq tidak mengenal nishab. Infaq dikeluarkan setiap orang yang beriman, baik yang berpenghasilan tinggi maupun rendah, apakah ia di saat lapang maupun sempit (QS. 3:134). Jika zakat harus diberikan pada mustahik tertentu (8 asnaf), maka infaq boleh diberikan kepada siapapun. Misalnya, untuk kedua orang tua, anak-yatim, dan sebagainya (QS. 2:215).
Infaq adalah pengeluaran sukarela yang di lakukan seseorang, setiap kali ia memperoleh rizki, sebanyak yang ia kehendakinya. Allah memberi kebebasan kepada pemiliknya untuk menentukan jenis harta, berapa jumlah yang yang sebaiknya diserahkan. Terkait dengan infak ini Rasulullah SAW bersabda dalam hadits yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim ada malaikat yang senantiasa berdo'a setiap pagi dan sore : "Ya Allah SWT berilah orang yang berinfak, gantinya. Dan berkata yang lain : "Ya Allah jadikanlah orang yang menahan infak, kehancuran". (HR. Bukhori)

Jumat, 10 Februari 2012

Refleksi Peringatan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW


12 Rabi’ul Awwal 1432 H dalam penanggalan Islam (Hijriah). Pada tanggal tersebut, Nabi junjungan kita Muhammad SAW dilahirkan tepatnya tanggal 20 April 671 M. Nabi Muhammad SAW dilahirkan dari seorang wanita bernama Siti Aminah dan seorang ayah bernama Abdullah adalah untuk memberi rahmat bagi seluruh alam.  Kata rahmat mengandung makna keberuntungan, keberkahan, kebaikan dan kesejahteraan dalam segala bidang kehidupan baik sosial ekonomi, politik, ilmu pengetahuan, kebudayaan dan lain sebagainya. Semoga shalawat serta salam selalu tercurahkan kepada beliau beserta keluarga dan sahabatnya.
Tanggal 12 Rabi’ul Awwal seantero Indonesia hususnya menjadikan hari Libur Nasional guna memperingati kelahiran Sang Nabi junjungan alam Nabi Muhammad SAW atau yang dikenal dengan istilah Maulid Nabi  dalam alqur’an maupun hadits tidak ada anjuran  hari kelahirannya  diperingati. Tetapi, merujuk pada sejarah, di era kekhalifahan juga pernah diadakan peringatan kelahiran Nabi SAW. Peringatan maulid nabi tidak semata merupakan bentuk kegiatan ceremony belaka melainkan juga termasuk inti keimanan kita kepada Allah dan tidak sama dengan perayaan hari ulang tahun kita sebagai ummatnya. Menurut seorang ulama Syeikh Zainuddin al- Milbari menjelaskan kegiatan maulid Nabi SAW merupakan Inti dari pada Iman yang merupakan bukti kecintaan ummat kepada Nabinya kemudian merupakan manifestasi  memuliakan Nabinya.
Di kehidupan masa kini, peringatan nabi dilaksanakan dengan berbagai cara tergantung selera, kemampuan, keinginan masyarakat yang menyelenggarakannya, di kota maupun di kampung-kampung terlihat semarak maulid dengan menggelar pengajian pengajian ataupun sekedar makan-makan nasi kuning yang identik dengan nasi maulidan, momentum bersejarah ini perlu dipertahankan dalam rangka menyegarkan, meningkatkan serta memperbaharui keyakinan, perwujudan rasa cinta  serta mengamalkan ajaran Rasulullah SAW. Seorang Doctor ilmu tafsir al-Qur’an TGH.Dr.M.Zainul Majdi,MA mengatakan bahwa salah satu bukti kita cinta kepada Nabi SAW adalah dengan mencintai sunnah beliau artinya sebagai ummat maka konsekwensinya adalah mengamalkan ajarannya, sunnah-sunnahnya.
Syaikh Dr. Yusuf Al Qardhawi, Ketua Persatuan Ulama Internasional, mengungkapkan dalam situs beliau:“Ketika kita berbicara tentang peristiwa maulid ini, kita sedang mengingatkan umat akan nikmat pemberian yang sangat besar, nikmat keberlangsungan risalah, nikmat kelanjutan kenabian. Dan berbicara atau membicarakan nikmat sangatlah dianjurkan oleh syariat dan sangat dibutuhkan.”
Allah SWT memilih Nabi Muhammad bin Abdullah untuk mengemban Risalah Islam karena akhlak dan watak Nabi Muhammad SAW yang mulia serta kemanusiaannya yang luhur dan sangat berpengaruh dalam mengorbankan revolusi terbesar dan termulia yang pernah dikenal manusia sejak Allah SWT memerintahkan Adam dan Hawa turun dari Surga hingga saat ini. Dakwah yang diusung Nabi Muhammad SAW adalah revolusi moral. Kelahiran Muhammad SAW ditengah-tengah kebiadaban akhlak jahiliyah bangsa arab saat ini telah membawa cahaya seperti rembulan yang menerangi jiwa-jiwa yang gersang yang tiada mamiliki iman di dadanya. Nabi SAW tumbuh dan berkembang dengan selalu menunjukkan budi pekerti dan akhlak yang sempurna, pola ucap, sikap, dan tindaknya seirama sehingga itulah yang menyebabkan simpati semua kalangan. Ia diutus ke muka bumi sebagai revolosioner akhlak manusia yang saat itu telah melampaui batas dengan kata lain diutus sebagai penyempurna akhlak manusia di muka bumi seperti sabdanya : Innama bu’itstu li utammima makarima al-akhlak : “ Bahwa sesungguhnya aku diutus ke muka bumi ini untuk menyempurnakan akhlak yang mulia”. Dan ketika Siti aisyah Istri Rasulullah SAW ditanya oleh para sahabat apakah akhlak Rasululah SAW itu ? Siti Aisyah menjawab “ Kana Khulukuhul Qur’an “ : Bahwa akhlak Rasulullah SAW ialah Al Qur’an.
Ditengah krisis ketokohan dan percontohan pada bangsa saat ini maka sebagai umat islam haruslah menjadikan akhlak Nabi SAW sebagi contoh dan teladan dalam segala aspek kehidupan. Allah SWT menyatakan ‘laqad kana lakum fi rasulillah uswatun hasanah’ ; sesunguhnya pada diri Rasulullah SAW terdapat tauladan yang baik untuk kamu sekalian. (QS. Al-Ahzab,33:21).
Seorang pemikir islam berkebangsaan India, Abu A’la al-Maududi menejelaskan kepribadian Rasulullah SAW : He is the only one personality that all excellences have been blended in him. Artinya Ia (Muhammad) adalah satu-satunya pribadi dimana seluruh keunggulan kualitas terdapat pada dirinya.
Rasulullah adalah sosok manusia yang sempurna (perfect personality) dan tauladan dalam setiap lini kehidupan ; disaat masih kanak-kanak ia telah menujukkan sifat taawun atau sifat membantu pada saat itu beliau sering membantu pamannya menggembala kambing, beliau juga tidak pernah menujukkan prilaku kurang baik seperti menyembah berhala, berjudi, minum minuman keras , dzalim, iri hati jahat dan keji. Beliau terpelihara kesuciannya oleh Allah. Dan sebagai anak yatim yang tinggalkan ayahnya sejak masih dalam kandungan dan ditinggalkan ibunya sejak umur enam tahun beliau tidak pernah putus asa, patah hati maupun merasakan kesedihan yang mendalam, beliau selalu memperlihatkan ketegaran, ketabahan dan semangat yang tinggi.
Disaat beliau di rumah berada ditengah-tengah keluarganya beliau sosok yang bertanggung jawab,mencintai istri/anak dan romantis. Kepada istrinya Siti Aisyah beliau selalu memanggilnya “ Ya Humaira : wahai bunga mawar yang sedang mekar. Anas bin Malik RA (Khadim Rasul)  menceritakan bahwasanya ia tidak pernah mendengar pertengkaran di dalam kehidupan rumah tangga Nabi Muhammad SAW, beliau adalah kepala keluarga yang baik dan bertanggung jawab , pemimpin yang kharismatik dan berwibawa tidak hanya pada istrinya beliau juga menghargai dan menghormati wanita, ia menganggapnya sebagai tiang Negara ( Al mar’ah imad al Bilad ) dan dianggap sebagai madrasah ( al Umm madrasah idza ‘adadtaha khairan, ‘adadta syu’ban khairan ; Ibu (wanita) itu bagaikan madrasah, jika engkau menyiapkan dengan baik maka berarti telah menyiapkan generasi muda masa depan yang baik). Dengan memberikan perhatian kepada para wanita maka peran penting yang dilaksanakan oleh kaum wanita berjalan dengan baik. Beliaulah satu-satunya yang menujukkan kepeduliannya terhadap wanita dimana pada zaman itu masyarakat jahiliyah tak segan-segan menguburkan hidup-hidup anak perempuannya apabila istrinya melahirkan perempuan karena mereka merasa malu punya keluarga wanita.
Selanjutnya Nabi SAW memperlihatkan akhlak mulianya dalam masalah pertempuran dan diplomasi. Rasulullah tampil langsung sebagai panglima perang yang tangguh, ahli taktik dan strategi dan sebagai diplomat yang handal. Sebagaian besar peperangan yang dipimpin oleh Rasulullah SAW mencapai kemenangan . sebagai diplomat beliau telah berhasil menyatukan suku-suku bangsa Arab yang saling bertempur hingga menjadi satu kekuatan yang hebat. Ia juga berhasil melakukan perundingan atau membuat Memorandum of Understanding atau nota kesepahaman yang disebut Perjanjian Khudaibah ataupun Piagam Madiah. Meski beliau adalah seorang Nabi dan Kepala pemerintahan beliau selalu menujukkan akhlak yang santun, bersikap tegas dan berhasil melakukan revolusi secara damai. Sedemikian mulia dan keberhasilan Rasulullah SAW maka pantas Michael H. Hart dalam bukunya “The 100” pada tahun 1978 seorang orientalis keturunan Yahudi menempatkan nama beliau menjadi orang pertama dari 100 tokoh paling berpengaruh di dunia. Beliau telah berhasil menyebarkan agama Islam, menjadi penguasa Arabia, mempunyai karir politik dan keagamaan yang luar biasa, namun tetap seimbang dan serasi dan itulah yang menyebabkan beliau mempunyai banyak pengikut setia dan menjadi panutan hingga akhir zaman.
Rasullulah SAW juga merupakan seorang ahli pendidik atau pengajar yang berhasil menempa para sahabat-sahabatnya sehingga mereka banyak menjadi pengahapal al-Qur’an, dan juga menjadi khalifah yang tersebar ke seluruh negeri Arab pada saat itu. Seperti yang disebutkan oleh Ziauddin Alavi bahwa Rasulullah merupakan guru pertama dalam islam, beliau menggunakan masjid Nabawi sebagai tempat mengajarkan Al Qur’an dan masalah-masalah keimanan, ketakwaan, akhlak dan masalah sosial, politik, ekonomi, budaya dan pertahanan. Ajarannya selalu up to date (kekinian) dan sesuai dengan zaman.
Keberhasilan beliau tiada lain disebabkan oleh kepiawaiannya dalam mengajar, mendidik, menyampaikan sehingga para sahabat mudah untuk menerimanya. Beliau juga meski sebagai guru  tidak pernah arrogant atau sombong, selalu menunjukkan kepada sahabat sifat beliau yang arif, bersahaja, bersabat, bijak dan manis bahasanya seperti contoh beliau sering memanggil sahabat dengan panggilan yang menyenangkan hati seperti panggilan kepada Sahabatnya sayyidina Abu Bakar yaitu al-Shiddiq (orang yang jujur), sayyidina umar diberi gelar al-Faruq (pemisah yang benar dan salah), sayyidina Usman diberi gelar Dzun Nurain ( memiliki dua cahaya) dan sayyidina Ali diberi gelar Karramallahu Wajhah (semoga Allah memuliakannya)
Beliau juga seorang ahli ibadah, meski telah menjadi nabi yang ma’shum dari dosa namun beliau setiap hari tidak pernah luput dari ibadah, mendekatkan diri kepada Allah, ia selalu berzikir, shalat malam, meminta ampunan kepada Allah. Sampai Siti Aisyah istrinya bertanya “ Bukankah engkau seorang rasul yang dipelihara oleh Tuhan dan di cintaiNya?”. Beliau menjawab dengan balik bertanya “ Apakah engkau tidak suka jika aku manjadi hamba yang paling bersyukur ?, selain itu beliau setiap hari meminta ampun atau membaca Istigfar tidak kurang seratus kali dalam sehari. Inilah sikap taubat atau menyadari kekurangan, kesalahan sepatutnya dilestarikan.
Disamping itu juga beliau senantiasa memberikan teladan dalam kerukunan dari segi hubungan sosial bermasyarakat. Beliau pernah bersabda dihadapan para sahabatnya yang artinya “ Carilah kemulyaan di hadapan Allah. Lantas para sahabat bertanya : bagaimana caranya wahai Rasulullah ? nabi menjawab : sambunglah hubungan yang sempat terputus, berikanlah hadiah terhadap orang yang belum pernah memberikan sesuatu kepadamu dan bersikaplah ramah terhadap orang yang membodohimu”. Sikap ini jelas memperlihatkan sikap toleransi antar sesama mahluk ciptaan Allah. Karena hal sesungguhnya yang membedakan kita dihadapan Allah adalah takwa.
Keadaan akhlak manusia di akhir zaman ini semakin jauh nari nilai-nilai al-Qur’an dan sunnah Nabi sehingga manusia semakin jauh dengan tuhan serta nabinya dan menjadikan harta sebagai pujaannya. Kenyataan ini disebabkan belum sungguh-sungguhnya kita dalam meneladani Rasulullah SAW dalam setiap sendi kehidupan, marilah kita jadikan beliau sebagai Bintang Idola Pujaan Hati bukan sebaliknya menjadikan bintang-bintang sinetron, pemain bola, artis maupun penyanyi sebagai pujaan hati.
Marilah kita umat islam bangkit dari ketepurukan dan keterbelakangan  lewat momentum bersejarah maulid Nabi Muhammad SAW ummat Islam kembali kepada khittah Islam yang sebenarnya dan introspeksi diri sejauh mana kita telah membuktikan kecintaan kita kepada Sang Idola Nabi Muhammad SAW.
Oleh karena itu, jika kondisi kehidupan kita ingin berubah, maka yang harus kita lakukan adalah mau dan berani merubah kebiasaan hidup kita ini.
Allah SWT berfirman : “Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah segala sesuatu yang ada pada diri mereka sendiri” (QS.23. Ar-Ra’du : 11).
Imam Ibnu ‘Atho’illah dalam kitab Al-Hikam menyatakan :“Bagaimana mungkin keadaanmu akan berubah menjadi luar biasa, sedangkan kamu belum mau merubah kebiasaan-kebiasaan hidupmu”.
Kebiasaan mengabaikan dan menyepelekan uswah hasnah Rasulullah SAW menyebabkan kemunduran derajat hidup. Maka masukkan ruh akhlak beliau dalam kehidupan kita maka Insyaallah kita akan mendapat syafaat beliau kelak. “ Allohumma sholli ala sayyidina Muhammad” . Wallahu a’lam bissawab.

Rabu, 08 Februari 2012


DUA JURUS DAHSYAT IKHLAS DAN TAWAKKAL - Allah telah mengatur rezeki untuk hamba-hamba-Nya. Tak ada yang memberi rezeki kepada kita selain Allah. Allah yang berkehendak melapangkan dan mempersempit rezeki untuk hamba-hamba-Nya. Katakanlah, “Sungguh, Tuhanku melapangkan rezeki dan membatasinya bagi siapa yang Dia kehendaki diantara hamba-hamba-Nya.” Dan apa saja yang kamu infakkan, Allah akan menggantinya dan Dialah pemberi rezeki yan terbaik.(Q.S Saba’ [34]: 39). Rizkipun tak hanya berupa harta. Iman di hati kita adalah rizki dari Allah yang sungguh tak ternilai harganya!

Tetaplah berusaha maksimal dalam menjemput rezeki dari Allah, jangan pernah kehilangan harapan dan berputus asa, iringi selalu dengan ikhlas dan tawakal kepada-Nya. Ikhlas dan bertawakkal ?, Tentang ikhlas dan tawakal…ada beberapa sahabat rekanan yang pernah berkisah :
  1. Astaghfirullahaladzim… Akupun tersadar. Mengapa diri ini begitu ngotot mencari batu cincin itu, Ya Allah… aku ikhlas jika memang batu cincin itu hilang, mungkin memang bukan rezekiku. Ucapku dalam hati. Selesai berucap seperti itu, tiba-tiba kulihat sebuah benda berkilat-kilat di lantai. Batu cincin itu! Tergeletak di lantai tak jauh dariku!
  2. ketika kita ikhlas, dan menyerahkan semua kepada Allah hidup menjadi lebih mudah! Contohnya nih, beberapa waktu lalu dompetku tertinggal di Taxi. Aku tak dapat berbuat apa-apa. Akhirnya kuikhlaskan, kuserahkan kepada Allah. Dan apa yang terjadi? Tak lama kemudian supir taxi tadi menelponku (Nomer telponku ada di dompet) dan ternyata dia mau mengantarkan dompetku yang tertinggal di taxinya ke rumah! Nah, sekarang dalam segala hal aku selalu berusaha ikhlas dan tawakal. Percaya nggak, kalau dulu aku susah banget nyari parkir di Mall, tapi dengan ikhlas dan tawakal aku selalu gampang loh dapetin parkir di Mall ” tambahnya sambil tersenyum…

Bagaimana jika tidak ?, Allah maha mengetahui, kesabaran yang menguji sudah di sesuaikan dengan kadar keimanan, selama syaratnya kita memiliki dua itu tadi...Ikhlas dan tawakkal. Balasan Allah SWT yang maha baik tentu lebih baik dari apa yang tidak kita duga, dan menjadi amal shaleh, mengangkat derajat, menghapus dosa kesalahan bahkan bisa jadi ada musibah dimana dengan kejadian pahit kita dihindarkan dari musibah oleh Allah SWT. Tugas kita sebagai seorang hamba selalu berprasangka baik, ikhlas dan bertawakkal bila segala sesuatunya mentok serahin aja ke Allah. Allahu a'lam

Sabtu, 28 Januari 2012

doa untuk istri tersayang

“Dan barangsiapa yang menta’ati Allah dan Rasul-Nya mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni’mat Allah yaitu Nabi-nabi, para shiddiqin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang shaleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya”


Bismillahirrohmaanirrohiiim…
Alhamdulillahi robbil ‘aalamiiin…
Ashsholaatu wassalaamu ‘alaa rosuulillaah…

Terimakasih, yaa Robbiii…
Engkau telah menyatukan kami dalam ikatan pernikahan ini. Menghalalkan yang sebelumnya belum halal atas kami. Mengharamkan yang sebelumnya belum haram atas kami. Mengikuti sunnah Rasul-Mu. Menyempurnakan separuh dien-Mu. Menyemai ibadah dalam bilik kemesraan kami. Sembari terus–menerus mengharapkan ridho dan ampunan-Mu…
Penantian panjang yang kami jalani dengan harap-harap cemas bersama doa-doa yang dilantunkan di sudut hening malam, di pagi berkabut, maupun di terik siang yang membakar peluh, telah Engkau usaikan dalam majelis pernikahan yang sederhana dan takzim itu. Ijab Qabul dan Ikrar suci yang diucapkan lirih pada sore hari itu, merambatkan segala rasa yang terpatri dalam di lubuk batin kami. Menggema memenuhi rongga kepala dan hati kami. Hingga air mata haru dan isak tangis kami pun tak kan mampu melukiskannya.
Sembari terus-menerus mengharapkan ridho dan ampunan-Mu, atas dosa-dosa yang telah dan mungkin akan terjadi, kami memohon kepada-Mu, dengan segenap harapan dan kerendahan hati, sudilah kiranya Engkau menuntun kami ke jalan yang Engkau ridhoi. Jauhkanlah kami dari jalan orang-orang yang Engkau murkai. Jauhkanlah kami dari jalan orang-orang yang sesat. Jauhkanlah kami dari jalan orang-orang yang dzhalim. Jauhkanlah kami dari jalan orang-orang yang fasik. Jauhkanlah kami dari jalan orang-orang yang kafir. Selamatkanlah kami dalam kehidupan kami di dunia dan di akhirat kelak.
Yaa Robbiii…
Jadikanlah isteriku isteri yang taat menjalankan perintah-Mu, dan tegas meninggalkan larangan-Mu. Jadikanlah ia isteri yang taat kepadaku dalam perjalanan menggapai ridho-Mu. Jauhkanlah ia dari sifat-sifat buruk dan bejat, dari sifat ujub dan khianat, dari sifat dzhalim dan fasik, dan sifat-sifat yang mendatangkan murka-Mu. Jadikanlah ia isteri shalehah, sebaik-baik perhiasan dunia bagiku. Jadikanlah ia sahabat terbaikku dalam mengarungi hidup dan kehidupan ini. Jadikanlah ia sahabat terbaikku dalam menuntut ilmu. Menjadi guruku. Menjadi muridku. Menjadi teman belajarku. Menjadi rekan sejawatku dalam berlomba-lomba di jalan kebaikan.
Yaa Robbiii…
Jadikanlah aku imam bagi keluargaku. Imam yang adil dan mengajak kepada jalan yang Engkau ridhoi. Bimbinglah aku dalam memimpin. Tegurlah aku dikala lalai dari tanggung jawabku, dengan teguran Rahman dan Rahim-Mu. Jauhkanlah aku dari sifat-sifat buruk dan bejat, dzhalim dan fasik, dari sifat ujub dan khianat, dan dari segala sifat yang mendatangkan mudharat dan murka-Mu. Kuatkanlah keimananku, sebagai obor penerang bagi keluargaku dalam mengarungi gelapnya kehidupan akhir zaman ini. Bimbinglah kami, yaa Robbal ‘aalamiiin…

Yaa Robbiii…
Ampunilah dosa-dosa kami sebelum dan sesudah hari pernikahan kami. Ampunilah dosa-dosa kami sebelum dan sesudah hari pernikahan kami. Ampunilah dosa-dosa kami sebelum dan sesudah hari pernikahan kami. Baik yang kami sadari maupun yang tidak kami sadari. Ampunilah dosa Ibu dan Bapak kami. Ampunilah dosa saudara-saudara kami. Ampunilah dosa kerabat-kerabat kami. Ampunilah dosa sahabat-sahabat kami. Ampunilah dosa guru-guru kami. Ampunilah dosa seluruh kaum muslimin dan muslimat, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal.
Yaa Robbiii…
Karuniailah kami keturunan yang shaleh dan shalehah. Anak-anak yang taat menjalankan perintah-Mu dan tegas meninggalkan larangan-Mu. Anak-anak yang berbakti kepada kedua orangtuanya. Karuniailah kami keturunan yang akan teguh memperjuangkan tegaknya dien-Mu di bumi ciptaan-Mu ini.
Yaa, Robbiii…
Karuniailah kami keturunan yang menggenggam erat sunnah Rasul-Mu. Memperjuangkan kembalinya kehidupan Islam di persada bumi ini. Generasi yang siap mengorbankan segala yang ada padanya untuk mempertahankan aqidahnya, memperjuangkan al-Haq dan mengingkari al-bathil.
Robbanaa aatinaa fid dunyaa hasanah wa fil aakhiroti hasanah waqinaa ‘adzaaban naar…
Allohummaghfirlanaa bikaroomika ajma’iiin, watubuwazaqi wa’fu ‘an man yaquulu aamiiin aamiiiin aaamiiin….
Washollollohu ‘alaa sayyiidinaa Muhammad wa ‘alaa aalihi ajma’iiin
Walhamdulillahi robbil ‘aalamiiin
....