Sabtu, 16 Juni 2012

Arti Cinta dalam Islam

Kata pujangga cinta letaknya di hati. Meskipun tersembunyi, namun getarannya tampak sekali. Ia mampu mempengaruhi pikiran sekaligus mengendalikan tindakan. Sungguh, Cinta dapat mengubah pahit menjadi manis, debu beralih emas, keruh menjadi bening, sakit menjadi sembuh, penjara menjadi telaga, derita menjadi nikmat, dan kemarahan menjadi rahmat. Cintalah yang mampu melunakkan besi, menghancurkan batu karang, membangkitkan yang mati dan meniupkan kehidupan padanya serta membuat budak menjadi pemimpin. Inilah dasyatnya cinta (Jalaluddin Rumi).

Namun hati-hati juga dengan cinta, karena cinta juga dapat membuat orang sehat menjadi sakit, orang gemuk menjadi kurus, orang normal menjadi gila, orang kaya menjadi miskin, raja menjadi budak, jika cintanya itu disambut oleh para pecinta palsu. Cinta yang tidak dilandasi kepada Allah. Itulah para pecinta dunia, harta dan wanita. Dia lupa akan cinta Allah, cinta yang begitu agung, cinta yang murni. 
   
Cinta Allah cinta yang tak bertepi. Jikalau sudah mendapatkan cinta-Nya, dan manisnya bercinta dengan Allah, tak ada lagi keluhan, tak ada lagi tubuh lesu, tak ada tatapan kuyu. Yang ada adalah tatapan optimis menghadapi segala cobaan, dan rintangan dalam hidup ini. Tubuh yang kuat dalam beribadah dan melangkah menggapai cita-cita tertinggi yakni syahid di jalan-Nya.

Tak jarang orang mengaku mencintai Allah, dan sering orang mengatakan mencitai Rasulullah, tapi bagaimana mungkin semua itu diterima Allah tanpa ada bukti yang diberikan, sebagaimana seorang arjuna yang mengembara, menyebarangi lautan yang luas, dan mendaki puncak gunung yang tinggi demi mendapatkan cinta seorang wanita. Bagaimana mungkin menggapai cinta Allah, tapi dalam pikirannya selalu dibayang-bayangi oleh wanita/pria yang dicintai. Tak mungkin dalam satu hati dipenuhi oleh dua cinta. Salah satunya pasti menolak, kecuali cinta yang dilandasi oleh cinta pada-Nya.

Di saat Allah menguji cintanya, dengan memisahkanya dari apa yang membuat dia lalai dalam mengingat Allah, sering orang tak bisa menerimanya. Di saat Allah memisahkan seorang gadis dari calon suaminya, tak jarang gadis itu langsung lemah dan terbaring sakit. Di saat seorang suami yang istrinya dipanggil menghadap Ilahi, sang suami pun tak punya gairah dalam hidup. Di saat harta yang dimiliki hangus terbakar, banyak orang yang hijrah kerumah sakit jiwa, semua ini adalah bentuk ujian dari Allah, karena Allah ingin melihat seberapa dalam cinta hamba-Nya pada-Nya. Allah menginginkan bukti, namun sering orang pun tak berdaya membuktikannya, justru sering berguguran cintanya pada Allah, disaat Allah menarik secuil nikmat yang dicurahkan-Nya.

Itu semua adalah bentuk cinta palsu, dan cinta semu dari seorang makhluk terhadap Khaliknya. Padahal semuanya sudah diatur oleh Allah, rezki, maut, jodoh, dan langkah kita, itu semuanya sudah ada suratannya dari Allah, tinggal bagi kita mengupayakan untuk menjemputnya. Amat merugi manusia yang hanya dilelahkan oleh cinta dunia, mengejar cinta makhluk, memburu harta dengan segala cara, dan enggan menolong orang yang papah. Padahal nasib di akhirat nanti adalah ditentukan oleh dirinya ketika hidup didunia, Bersungguh-sungguh mencintai Allah, ataukah terlena oleh dunia yang fana ini. Jika cinta kepada selain Allah, melebihi cinta pada Allah, merupakan salah satu penyebab do’a tak terijabah.
  • Bagaimana mungkin Allah mengabulkan permintaan seorang hamba yang merintih menengadah kepada Allah di malam hari, namun ketika siang muncul, dia pun melakukan maksiat.
  • Bagaimana mungkin do’a seorang gadis ingin mendapatkan seorang laki-laki sholeh terkabulkan, sedang dirinya sendiri belum sholehah.
  • Bagaimana mungkin do’a seorang hamba yang mendambakan rumah tangga sakinah, sedang dirinya masih diliputi oleh keegoisan sebagai pemimpin rumah tangga..
  • Bagaimana mungkin seorang ibu mendambakan anak-anak yang sholeh, sementara dirinya disibukkan bekerja di luar rumah sehingga pendidikan anak terabaikan, dan kasih sayang tak dicurahkan.
  • Bagaimana mungkin keinginan akan bangsa yang bermartabat dapat terwujud, sedangkan diri pribadi belum bisa menjadi contoh teladan
Banyak orang mengaku cinta pada Allah dan Allah hendak menguji cintanya itu. Namun sering orang gagal membuktikan cintanya pada sang Khaliq, karena disebabkan secuil musibah yang ditimpakan padanya. Yakinlah wahai saudaraku kesenangan dan kesusahan adalah bentuk kasih sayang dan cinta Allah kepada hambanya yang beriman…

Dengan kesusahan, Allah hendak memberikan tarbiyah terhadap ruhiyah kita, agar kita sadar bahwa kita sebagai makhluk adalah bersifat lemah, kita tidak bisa berbuat apa-apa kecuali atas izin-Nya. Saat ini tinggal bagi kita membuktikan, dan berjuang keras untuk memperlihatkan cinta kita pada Allah, agar kita terhindar dari cinta palsu.

Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan hambanya yang betul-betul berkorban untuk Allah Untuk membuktikan cinta kita pada Allah, ada beberapa hal yang perlu kita persiapkan yaitu:
  1. Iman yang kuat
  2. Ikhlas dalam beramal
  3. Mempersiapkan kebaikan Internal dan eksternal. kebaikan internal yaitu berupaya keras untuk melaksanakan ibadah wajib dan sunah. Seperti qiyamulail, shaum sunnah, bacaan Al-qur’an dan haus akan ilmu. Sedangkan kebaikan eksternal adalah buah dari ibadah yang kita lakukan pada Allah, dengan keistiqamahan mengaplikasikannya dalam setiap langkah, dan tarikan nafas disepanjang hidup ini. Dengan demikian InsyaAllah kita akan menggapai cinta dan keridhaan-Nya.

Jika Seorang Pria Benar-Benar Mencintaimu..


Jika seorang pria benar-benar mencintaimu, dia tak akan mencuekkanmu seharipun, sebab hari-hari yang merindu sangatlah sulit dijalani.

Jika seorang pria benar-benar mencintaimu, dia akan memanjakanmu seperti anak kecil, bahkan dia sendiri tak tahu alasan memanjakanmu.

Jika seorang pria benar-benar mencintaimu, dia akan senantiasa membuatmu senang, sebab dia tak akan membiarkanmu meneteskan air mata.

Jika seorang pria benar-benar mencintaimu, dia kan mengaktifkan ponselnya 24 jam x 7 hari untukmu, sebab ia mau kapan dan dimana saja kamu bisa menemukannya.

Jika seorang pria benar-benar mencintaimu, dia akan menganggapmu paling indah dan tak akan membandingkanmu dengan wanita lain.

Jika seorang pria benar-benar mencintaimu, ia akan menemanimu walaupun ia sendiri sangat sibuk.

Jika seorang pria benar-benar mencintaimu, ia tak akan setuju saat kamu diet, kesehatanmu menjadi prioritas utama baginya.

Jika seorang pria benar-benar mencintaimu, ia sangat ingin hidup bersamamu, sebab kamulah bagian terpenting dalam hidupnya.

Jika setelah kamu membaca kalimat ini kamu memikirkan seorang pria, mungkin dialah pria yang benar-benar mencintaimu.

Pengertian Perasaan Cinta



Perasaan Cinta  adalah sebuah emosi dari kasih sayang yang kuat dan ketertarikan pribadi. Dalam konteks filosofi cinta merupakan sifat baik yang mewarisi semua kebaikan, perasaan belas kasih dan kasih sayang. Pendapat lainnya, cinta adalah sebuah aksi/kegiatan aktif yang dilakukan manusia terhadap objek lain, berupa pengorbanan diri, empati, perhatian, memberikan kasih sayang, membantu, menuruti perkataan, mengikuti, patuh, dan mau melakukan apapun yang diinginkan objek tersebut.

Perasaan Cinta  adalah satu perkataan yang mengandungi makna perasaan yang rumit. Bisa di alami semua makhluk. Penggunaan perkataan cinta juga dipengaruhi perkembangan semasa. Perkataan sentiasa berubah arti menurut tanggapan, pemahaman dan penggunaan di dalam keadaan, kedudukan dan generasi masyarakat yang berbeda. Sifat cinta dalam pengertian abad ke 21 mungkin berbeda daripada abad-abad yang lalu. Ungkapan cinta mungkin digunakan untuk meluapkan perasaan seperti berikut:

·             Perasaan terhadap keluarga
·             Perasaan terhadap teman-teman, atau philia
·             Perasaan yang romantis atau juga disebut asmara
·             Perasaan yang hanya merupakan kemahuan, keinginan hawa nafsu atau cinta eros
·             Perasaan sesama atau juga disebut kasih sayang atau agape
·             Perasaan tentang atau terhadap dirinya sendiri, yang disebut narsisisme
·             Perasaan terhadap sebuah konsep tertentu
·             Perasaan terhadap negaranya atau patriotisme
·             Perasaan terhadap bangsa atau nasionalisme

syair pernikahan

Suami ke Istri Tercinta :

Duhai Pujaan Hatiku

Wahai Istriku.....
Janganlah engkau terlampau mencintaiku
Aku hanya sekedar makhluk yang tiada daya upaya

Aku tidak pernah membelaimu
Kecuali ALLAH SWT mengkaruniakan kekuatan kepadaku
Aku tidak akan pernah mampu memberi nafkah kepadamu walau satu rupiahpun,
Kecuali ALLAH SWT menitipkan rezeki kepadaku

Cintailah ALLAH SWT, pemilik alam semesta ini
Sekiranya ALLAH SWT mencintaimu,
Maka niscaya akan Dia-lah yang akan memelihara dirimu
Walau aku jauh darimu

Sekiranya ALLAH SWT menyayangimu,
Maka Dia pastikan membela dan mencukupimu
Walau aku tidak berdaya untuk membela dan mencukupimu

Cintailah aku
Sekedar apa yang diperintahkan ALLAH SWT kepadamu


Istri ke Suami Tercinta :

Duhai Pelita Hatiku

Wahai suamiku.....
Aku tak pernah mengharapkan dunia macam apapun darimu
Janganlah engkau mencintaiku melebihi cintamu kapada ALLAH SWT

Jika engkau mencintai ALLAH SWT,
Aku tidak kuatir engkau akan meninggalkanku

Pergilah mencari nafkah untukku dan anakmu
Aku titipkan engkau kepada ALLAH SWT
Sesibuk apapun, Janganlah engkau melalaikan sholat,
Berbuat baiklah kepada siapapun

Muliakanlah aku sehingga engkau juga akan dimuliakan dihadapan ALLAH SWT

Duhai Suamiku....
Ajari aku untuk menjadi hamba ALLAH
Yang ikhlas dan pandai bersyukur
Ajari aku untuk dapat mencium wewangian surga
Menjadi bidadari yang menemanimu kelak disurgaNya


Dari Saya untuk mereka yang merayakan pernikahan.....^^

Atas Nama Cinta Membangun Rumah Tangga



  • Biasanya ketika bicara masalah membangun rumah tangga maka yang muncul adalah masalah hak dan kewajiban suami isteri
  • Lalu berlaku menuntut hak dan menunaikan kewajiban
  • Setiap ada permasalahan, maka kita akan kembalikan pada definisi mengenai hak dan kewajiban tersebut.
  • Mari kiat lihat kisah berikut peristiwa seorang anak nakal, maka bisa jadi suami akan mengatakan kepada isterinya, "Ini kan kewajiban kamu untuk mendidiknya. Kamu tidak bisa melakukannya dengan baik sehingga anak kita nakal." Sang isteri bisa jadi akan membela diri dengan mengatakan, "Tetapi karena engkau tidak cukup memberikan uang, terpaksa anak kita tidak belajar di sekolah unggulan. Terpaksa aku menyekolahkannya di sekolah yang murah dan tidak bermutu, dampaknya anak kita nakal serta bodoh".
  • Kisah kedua : ketika rumah tampak tidak teratur dan berantakan, seorang suami bisa mengatakan, "Rumah kita berantakan. Engkau tidak menatanya dengan baik. Bukankah ini kewajibanmu?" Sedangkan isteri bisa menjawabnya dengan ungkapan, "Engkau tidak bisa berlaku sebagai pemimpin yang baik. Waktumu habis di luar rumah, sementara engkau juga tidak memberikan kepadaku pembantu rumah tangga".
  • Apabila seluruh masalah senantiasa dikembalikan kepada pembahasan tentang hak dan kewajiban, sesungguhnya tidak akan pernah bisa menyelesaikan masalah itu sendiri.
  • Perhatikan kekakuan dalam dialog berikut ini. Ana menuntut suaminya, Ahmad, untuk berlaku romantis. "Tunjukkan bukti cintamu padaku. Selama ini kau tak pernah merayuku. Selama ini kau tak pernah menyatakan rasa cintamu padaku", kata Ana. "Bukankah aku sudah bekerja mencari nafkah, aku sudah memenuhi semua kebutuhan keluarga kita. Bukankah itu sudah menjadi bukti yang paling kongkrit bahwa aku mencintaimu. Lebih dari itu aku tidak pernah menyeleweng", jawab Ahmad. "Itu tak cukup bagiku. Semestinya suami harus pandai merayu dan mengungkapkan kata-kata mesra kepada isterinya. Kau tak pernah melakukannya", keluh Ana. "Apakah ada kewajiban bagi suami untuk merayu isterinya? Mana dalil yang menyatakan bahwa suami harus merayu isteri?" Ahmad tak kalah ketus menjawab.
  • Pada kesempatan yang lain, Ana merasa kelelahan melakukan semua pekerjaan rumah tangganya. Hingga akhirnya ia tidak mencuci pakaian dan menyeterika hari itu. Besok paginya, saat Ahmad akan berangkat bekerja, ia mendapatkan bajunya belum rapi. "Kenapa engkau tidak menyeterika bajuku? Aku akan bekerja dengan pakaian apa hari ini, sedang baju yang kupakai kemarin juga belum kau cuci", keluh Ahmad. "Aku sangat lelah kemarin, tak sempat menyeterika baju-baju kita. Tidak kah engkau bisa menyeterika sendiri pagi ini? Lihatlah, aku sangat sibuk dengan anak bayi kita ini", jawab Ana. "Tetapi bukankah menyeterika baju ini kewajibanmu? Mengapa tak kau utamakan?" tanya Ahmad. "Kewajibanku? Apakah ada kewajiban isteri untuk mencuci dan menyeterika baju suaminya? Mana dalil yang menyatakan bahwa isteri wajib menyeterika baju suami?" ungkap Ana dengan ketus.
  • Coba anda bayangkan ????????? suasana rumah tangga apabila hanya mengandalkan pembahasan tentang hak dan kewajiban? Kaku, kering, formalistik dan mekanistik. Tidak ada suasana keindahan dan kelembutan.
  • Ada lagi kerangka kultural, biasa terjadi dalam keluarga yang proses pernikahannya terjadi secara tradisional
  • Akan tetapi akan menjadi masalah manakala corak kultural ini dibingkai dalam sebuah konstruksi “agama” yang digunakan sebagai landasan kekuatan untuk memaksakan kehendak. Misalnya seorang suami melarang isterinya aktif dalam partai politik, karena “biasanya” yang aktif di parpol adalah laki-laki, sembari menjastifikasi dengan dalil agama, bahwa hendaknya wanita di dalam rumah saja.
  • Atau suami tidak mau mengerjakan kegiatan kerumahtanggaan seperti memasak, mencucui dan membersihkan rumah karena “biasanya” yang melakukan adalah para isteri, sembari melegitimasi ungkapan itu dengan dalil agama, bahwa wanita bertanggung jawab atas urusan di dalam rumah. Apabila para isteri menerima pembagian peran seperti ini atas dasar keikhlasan tanpa keterpaksaan, tentulah akan berjalan dengan lancar dan tidak akan menimbulkan masalah.
  • Untuk itulah, hendaknya rumah tangga Islam harus mengedepankan suasana kehangatan, keterbukaan, kekompakan, dan kebersamaan di dalamnya.
  • Kerangka cinta, itulah yang diperlukan dalam setiap rumah tangga.  Dengan cinta, seorang suami bisa menunaikan kewajibannya dengan penuh semangat dan pengorbanan.  Dengan cinta seorang suami akan optimal bekerja mencari nafkah, memberikan waktu, tenaga, harta dan perhatian utamanya untuk mengelola keluarga.
  • Dengan cinta seorang isteri bersedia melakukan pekerjaan kerumahtanggaan dengan ringan dan tanpa rasa keterpaksaan. Ia didik anak-anak dengan sepenuh cinta, ia siapkan keperluan suami dengan penuh cinta. Ia mengatur rumah tangga, menata taman, menata ruangan-ruangan dalam rumah, memberikan hiasan, semua dikerjakan dengan cinta. Mereka berinteraksi satu sama lain dengan bahasa cinta.
  • Rumah tangga cinta, itulah sebutan bagi mereka. Suasana yang menyelimuti mereka setiap harinya adalah cinta.
  • Isteri yang tersenyum ceria mengantar kepergian dan menyambut kedatangan suami, bukanlah karena kewajiban, tetapi karena cinta.
  • Seorang suami yang membelai rambut isterinya, mengucapkan kata-kata pujian dan ungkapan kebahagiaan, bukan karena kewajiban, tetapi karena cinta.
  • Isteri yang membantu suami menyiapkan keperluannya, merapikan jas dan dasi suami, menyiapkan tas kerja suami., bukanlah karena kewajiban, tetapi cinta.
  • Anak-anak yang demikian taat dan patuh kepada orang tua, membahagiakan kedua orang tua, bukan dengan bahasa kewajiban tetapi dengan penuh kecintaan.
  • Ayah yang memperhatikan pendidikan anak, membimbing mereka untuk mentaati Allah, mengajari mereka prinsip-prinsip aqidah dan ibadah, membentuknya berakhlaq karimah, semua dengan landasan cinta.
  • Suami yang menegur isterinya karena ada perbuatan yang tidak pantas dilakukan sebagai muslimah, teguran dilakukan bukan karena tengah mengerjakan kewajiban, tetapi tengah mengekspesikan cinta.
  • Isteri yang menyimpan cemburu kepada suami, karena khawatir melakukan penyimpangan dengan wanita lain, lalu ia memberikan peringatan agar suami berhati-hati, adalah ekspresi cinta dari isteri.
  • Rumah tangga dipenuhi cinta, ekspresinya ada pada semua titik interaksi mereka.

Kamis, 05 April 2012

LADANG IBADAH SEORANG IBU




 

Manakala seorang muslimah masuk ke dalam gerbang pernikahan, dia masuk ke dalam ladang ibadah, betapa tidak sementara pernikahan itu sendiri pada dasarnya merupakan ibadah. Ketaatan dan kepatuhan muslimah kepada suami, pelayanan dan pengabdiannya kepadanya, usahanya untuk membuat suami rela dan bahagia, semua itu menyaingi dan menandingi ibadah-ibadah besar semacam jihad, haji, menghadiri Jum’at dan jamaah. Bahkan respon baik yang ditunjukkan seorang istri kepada suami pada saat suaminya menginginkan dirinya merupakan lahan ibadah untuk mereka berdua.

Lahan ini akan semakin meluas manakala Allah berkenan menitipkan buah hati hasil kasih sayang suami istri. Seorang muslimah memperoleh kesibukan atau tugas baru sebagai calon ibu. Menjaga anak di dalam kandungannya selama sembilan bulan. Melahirkannya ke alam dunia dengan susah payah. Menyusui, merawatnya dan mendidiknya sehingga anak mampu melakukan kebutuhannya sehari-hari. Semua ini merupakan ladang pahala bagi ibu yang lebar lagi subur, tiada tertandingi dan tidak diraih bahkan oleh suami sekali pun. Belum lagi dalam keadaan demikian, suami juga menuntut haknya yang mengharuskan istri menunaikan kewajibannya. Belum lagi jika sang adik menyusul, adiknya lagi menyusul dan seterusnya.

Tidak dipungkiri bahwa semua itu merupakan peluang ibadah yang lebar bagi ibu jika dijalani dengan keikhlasan dan kelapangan hati. Namun semua itu adalah lahan ibadah hablum minan nas, terkait dengan manusia dan dalam hal ini adalah manusia terdekat dengan sang ibu, keluarga: suami dan anak-anak. Terkadang masih terlintas di benak ibu, di mana hablum minallah? Padahal idealnya adalah keseimbangan antara kedua hak dan kewajiban tersebut. Tidak jarang sang ibu merasa kurangnya alokasi waktu untuk kewajiban yang kedua ini atau dia melihat rada sulit untuk menyeimbangkan keduanya karena kesibukan yang pada umumnya sudah tersedot kepada kewajiban yang pertama.

Ibu tidak perlu cemas dan khawatir, masih ada cela dan peluang untuk dimanfaatkan, kembali kepada kita sendiri, bersediakah kita memanfaatkan cela walaupun itu tidaklah lebar, maukah kita menggunakan peluang meskipun ia juga tidak banyak. Kuncinya adalah kita sendiri. Baik-baik memanfaatkan dan mengatur. Inilah beberapa lahan ibadah yang relatif mudah bagi ibu di sela-sela kesibukannya sebagai ibu dan dia bisa mengerjakannya di rumah.

1- Menjaga shalat lima waktu

Ini adalah ladang ibadah bagi seorang ibu. Penulis mengerti bahwa seorang muslimah niscaya shalat. Namun terkadang, karena kesibukan mengurusi sana-sini di dalam rumah, seorang muslimah baru bisa shalat pada saat waktu hampir habis. Ini jangan sampai terjadi. Di sini perlunya seorang ibu memanfaatkan waktu jeda di sela-sela kesibukannya. Akan lebih utama jika ibu bisa melaksanakan shalat di awal waktu karena dengan itu dia telah menunaikan hak Rabbnya dan setelahnya dia bisa fokus kepada kesibukannya tanpa terbebani kewajiban yang belum tertunaikan.

Dari Abdurrahman bin Auf berkata, Rasulullah saw bersabda,

إِذَا صَلَّتِ المَرْأَةُ خَمْسَهَا وَصَامَتْ شَهْرَهَا وَحَصَنَتْ فَرْجَهَا وَأَطَاعَتْ بَعْلَهَا دَخَلَتْ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الجَنَّةِ شَاءَتْ .

Jika seorang wanita menjaga shalat lima waktu, berpuasa pada bulannya, menjaga kehormatannya dan menaati suaminya, niscaya dia masuk surga dari pintu mana saja yang dia inginkan.”(HR. Ahmad nomor 1661, hadits hasan lighairihi).

Perhatikanlah wahai ibu bagaimana Nabi saw menjadikan menjaga shalat dari seorang wanita muslimah termasuk ibu sebagai salah satu sebab diraihnya surga Allah. Maka tidak lagi ada alasan setelah ini dengan sibuk ini, sibuk itu sehingga ibadah yang mulia ini terbengkalai.

Penting pula diperhatikan bagi ibu terkait dengan menjaga shalat fardhu ini, yaitu menjaga shalat penyempurnanya, shalat rawatib qabliyah dan ba’diyah terutama yang muakkad yaitu sepuluh rakaat: dua sebelum Shubuh, dua sebelum Zhuhur dan dua setelahnya, dua ba’da Maghrib dan dua ba’da Isya`. Dari sepuluh ini yang paling muakkad lagi adalah dua qabla Shubuh, di mana Nabi saw menyatakan bahwa ia lebih utama daripada dunia dan segala isinya.

Penting pula diperhatikan oleh ibu terkait dengan menjaga shalat, bahwa sebaik-baik tempat shalat bagi wanita adalah rumahnya, meskipun hadir ke masjid untuk shalat tidak dilarang, namun yang lebih utama bagi ibu adalah rumah. Semakin tersembunyi tempat shalat bagi seorang wanita, semakin utama tempat tersebut.

Dari Ummu Salamah dari Nabi saw bersabda, “Sebaik-baik masjid (tempat shalat) bagi wanita adalah di dalam rumahnya.” (HR. Ahmad, Ibnu Khuzaemah dan al-Hakim, dia berkata, “Sanadnya shahih.”).

Hanya dengan satu nomor ini seorang ibu bisa merengkuh tiga keutamaan sekaligus. Menjaga shalat lima waktu, menjaga shalat rawatib dan melaksanakannya di tempat terbaik yaitu rumah.

2- Melaksanakan shalat penunjang

Maksud penulis adalah shalat-shalat yang tidak berbarengan dengan shalat-shalat fardhu, seperti shalat dhuha, dua rakaat sunnah adzan, dua rakaat ba’da wudhu, shalat witir, qiyamul lail. Shalat ini mempunyai keutamaan-keutamaan tersendiri secara khusus di samping keutamaan umum yaitu menambal kekurangan yang terjadi di dalam shalat fardhu.

Shalat dhuha misalnya, waktunya sesuai dengan namanya yaitu waktu dhuha. Pada waktu tersebut biasanya ibu mempunyai jeda waktu. Pekerjaan rumah biasanya sudah rampung, suami berangkat kerja, anak-anak di sekolah, kalau anak masih menyusu biasanya pada waktu tersebut dia sedang tidur. Inilah peluang bagi ibu. Hendaknya dia tidak menyia-nyiakannya. Cukup dua rakaat atau empat rakaat saja. Tidak mengambil waktu lama bukan?

Cukup disayangkan jika shalat ini dilewatkan begitu saja, karena ia adalah shalat awwabin, orang-orang yang selalu kembali kepada Allah dengan taubat. Ia adalah salah satu wasiat Rasulullah saw kepada Abu Hurairah yang selalu dia jaga. Ia mencukupi kewajiban sedekah setiap pagi untuk setiap pensendian Bani Adam yang berjumlah tiga ratus enam puluh. Ia adalah penjamin meraih jaminan pencukupan dari Allah di akhir hari. Semua keutamaan ini diriwayatkan secara shahih dari Nabi saw. (Lihat Shahih at-Targhib wa at-Tarhib karya Syaikh al-Albani buku ke 2 terbitan Pustaka Sahifa Jakarta).

Shalat witir misalnya, ia adalah shalat yang dicintai oleh Allah karena Allah adalah witir. Ia adalah shalat ahlul qur’an, demikian Nabi saw berbicara kepada mereka pada saat beliau menganjurkan shalat ini. Ia adalah salah satu wasiat Rasulullah saw kepada Abu Hurairah yang selalu dia jaga. Agar lebih mudah maka ibu bisa melaksanakan shalat ini setelah shalat Isya` atau sebelum tidur, seperti yang dilakukan oleh Abu Hurairah.

Dua rakaat ba’da wudhu misalnya, jika ia dilaksanakan dengan khusu’ maka ia menjadi sebab ampunan bagi dosa-dosa yang telah berlalu, sebagaimana yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dari Usman bin Affan berkata, “Aku melihat Rasulullah saw berwudhu seperti wudhuku ini, kemudian beliau bersabda, ‘Barangsiapa berwudhu seperti wudhuku ini kemudian shalat dua rakaat tanpa berbicara kepada dirinya –maksudnya adalah khusu’- di dalamnya maka dosanya yang telah berlalu diampuni.

Shalat ini yang menjadikan Bilal masuk surga di mana Nabi saw mendengar suara sepasang sandalnya. Imam al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw bersabda kepada Bilal, “Wahai Bilal, katakan kepadaku tentang amalan yang paling bisa diharapkan yang kamu lakukan dalam Islam, karena aku mendengar suara kedua sandalmu di depanku di surga.” Bilal menjawab, “Aku tidak melakukan suatu amal yang paling bisa diharapkan menurutku daripada shalat sebanyak apa yang telah ditulis bagiku untuk melakukannya dan itu aku lakukan setiap aku bersuci kapan pun, di suatu waktu di malam atau siang hari.”

Bersedekah

Bersedekah secara umum dianjurkan, tidak sedikit ayat-ayat dan hadits-hadits yang mendorong kaum muslimin untuk bersedekah. Anjuran ini mencakup kaum wanita atau para ibu. Bahkan secara khusus Rasulullah saw memerintahkan para wanita agar bersedekah, beliau menjelaskan bahwa salah satu hikmahnya adalah menjaga dari api neraka.
Beliau bersabda,

ياَ مَعْشَرَ النِسَاء تَصَدَّقنَ فَإِنِّي رَأَيتُكُنَّ أَكْثَرَ أَهْلِ النَار
Wahai kaum wanita, bersedekalah karena aku melihat penghuni neraka terbanyak adalah kalian.”(HR. Al-Bukhari).

Bersedekah ini jika dilakukan oleh ibu di rumah, maka hal tersebut merupakan keteladanan yang baik sekaligus penanaman amal shalih pada jiwa anak-anak, sambil bersedekah, ibu bisa menjelaskan kepada anaknya anjuran bersedekah, pahalanya dan faidahnya. Hal ini akan lebih melekat dalam diri anak, karena dia mendapatkan pengetahuan yang langsung diikuti dengan praktek. Di samping itu ia merupakan dorongan secara tidak langsung kepada suaminya. Dengan begitu ibu membuka jalan kebaikan bagi keluarga.

Bagaimana jika ibu tidak mempunyai penghasilan sendiri? Tidak perlu cemas karena dia tetap bisa menyisihkan sebagian dari hasil keringat suami dengan seizinnya tanpa merusak ekonomi keluarga. Dengan itu dia tetap meraih pahalanya dan suami juga meraih pahalanya.

Dari Aisyah berkata, Nabi saw bersabda, “Apabila seorang wanita menginfakkan makanan dari rumahnya tanpa merusak maka dia mendapatkan pahalanya dengan apa yang telah dia infakkan itu dan suaminya pun mendapatkan pahala karena dialah yang berusaha.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Dari Amru bin Syuaib dari bapaknya dari kakeknya dari Nabi saw bersabda, “Jika seorang wanita bersedekah dari rumah suaminya, maka dia mendapatkan pahala dan suaminya juga demikian. Pahala masing-masing tidak mengurangi pahala yang lain. Suami meraih pahala karena hasil usahanya, sedangkan istri meraih pahala dari apa yang disedekahkannya.” (HR. At-Tirmidzi dan dia berkata, “Hadits hasan.”).

Keluarga saya pas-pasan, bagaimana bisa kami bersedekah, sulit bagi keluarga seperti kami ini untuk bersedekah, paling-paling yang bisa kami sedekahkan adalah sesuatu yang remeh. Pertanyaan seperti ini terkadang terbetik dalam benak beberapa orang.
Begini kawan, walaupun keluarga Anda tergolong pas-pasan, Anda tetap bisa bersedekah, tentu sesuai dengan kemampuan dan kondisi yang ada, tidak perlu memaksakan, karena Allah hanya membebani seseorang sebatas kemampuannya, jangan merasa remeh terhadap apa yang akan disedekahkan.
Perhatikanlah sabda Nabi saw berikut niscaya rasa minder Anda untuk bersedekah agar berganti dengan kepercayaan diri yang kuat.

اِتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَة
Berlindunglah kalian dari api neraka walaupun hanya dengan bersedekah separuh kurma.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Nasihat ini Rasulullah saw katakan kepada istri yang paling beliau cintai. Beliau bersabda, “Wahai Aisyah, berlindunglah dari api neraka walaupun hanya dengan bersedekah separuh kurma, karena ia menutupi hajat orang lapar sebagaimana ia menutupi hajat orang kenyang.” (HR. Ahmad. Al-Albani berkata, “Hasan lighairihi.”).

Seorang wanita, Ummu Bujayyid berkata kepada Nabi saw, “Ya Rasulullah, seorang miskin berdiri di pintu rumahku, namun aku tidak mempunyai apa pun yang bisa aku berikan kepadanya.” Rasulullah saw bersabda, “Jika kamu tidak mempunyai apa pun selain telapak kaki sapi atau kambing yang dibakar maka berikanlah ia kepadanya.” (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Khuzaemah. Al-Albani berkata, “Shahih.”).

Nasihat ini diumumkan oleh Rasulullah saw kepada para wanita, beliau bersabda, “Wahai wanita-wanita muslimah, janganlah seorang tetangga merasa remeh untuk memberikan sesuatu kepada tetangganya walaupun ia hanya telapak kaki kambing.” (Muttafaq alaihi).

Dalam pandangan sebagian dari kita, apa artinya sebiji kurma? Alih-alih separuhnya? Apalah arti telapak kaki kambing yang hanya tulang semata? Tetapi itu dalam pandangan kita yang terbatas, lain perkara menurut pandangan Rasulullah saw, separuh biji kurma pun bisa melindungi seseorang dari api neraka. Telapak kaki kambing yang hanya tulang semata bisa berpahala besar dengan niat ikhlas karena Allah Ta'ala semata. Masihkah Anda belum percaya diri? Semoga tidak.

Ada satu hal lagi yang penting untuk diperhatikan oleh ibu, hendaknya dia memperhatikan di mana dia meletakkan sedekahnya, karena dengan hal ini dia bisa merengkuh tidak hanya satu keutamaan tetapi lebih, ibarat sekali dayung dua pulau terlampaui.

Silakan membaca hadits Nabi saw ini,

الصَدَقَةُ عَلىَ المِسْكِيْنِ صَدَقَةٌ وَعَلىَ ذِيْ الرَّحِمِ صَدَقَةٌ وَ صِلَةٌ
Sedekah kepada orang miskin adalah satu nilai sedekah, sedangkan kepada kerabat adalah dua nilai, yaitu sedekah dan jalinan silaturrahim.” (HR. An-Nasa`i dan at-Tirmidzi. Al-Albani berkata, “Hasan shahih.”).
Termasuk sedekah dengan dua nilai adalah sedekah yang ditanyakan oleh dua wanita sahabat, seorang wanita Anshar dan Zaenab istri Ibnu Mas'ud melalui Bilal, “Bolehkah bersedekah kepada suami mereka berdua dan kepada anak-anak yatim dalam pemeliharan mereka berdua?” Rasulullah saw menjawab, “Mereka berdua meraih dua pahala, pahala kerabat dan pahala sedekah.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Wallahu a'lam.

INGAT PESAN NABI, SUAMI MU ADALAH SURGA DAN NERAKA MU

INGAT PESAN NABI, SUAMI MU ADALAH SURGA DAN NERAKA MU



“Wanita merupakan mayoritas penduduk neraka.” Demikian disampaikan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam setelah shalat gerhana ketika terjadi gerhana matahari. Ajaib… !! wanita sangat dimuliakan di mata Islam, bahkan seorang ibu memperoleh hak untuk dihormati tiga kali lebih besar ketimbang ayah. Sosok yang dimuliakan, namun malah menjadi penghuni mayoritas neraka. Bagaimana ini terjadi?
“Karena kekufuran mereka,” jawab Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ketika para shahabat bertanya mengapa hal itu bisa terjadi.

Apakah mereka mengingkari Allah?

Bukan, mereka tidak mengingkari Allah, tapi mereka mengingkari suami dan kebaikan-kebaikan yang telah diperbuat suaminya. Andaikata seorang suami berbuat kebaikan sepanjang masa, kemudian seorang istri melihat sesuatu yang tidak disenanginya dari seorang suami, maka si istri akan mengatakan bahwa ia tidak melihat kebaikan sedikitpun dari suaminya.

...mereka tidak mengingkari Allah, tapi mereka mengingkari suami dan kebaikan-kebaikan yang telah diperbuat suaminya...

Demikian penjelasan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallamdalam hadits yang diriwayatkan Bukhari (5197).

Mengingkari suami dan kebaikan-kebaikan yang telah dilakukan suami!!

Inilah penyebab banyaknya kaum wanita berada di dalam neraka. Mari kita lihat diri setiap kita… kita saling introspeksi… apa dan bagaimana yang telah kita lakukan kepada suami-suami kita?
Jika kita terbebas dari yang demikian, alhamdulillah. Itulah yang kita harapkan. Berita gembira untukmu wahai saudariku.
Namun jika tidak, kita (sering) mengingkari suami, mengingkari kebaikan-kebaikannya… maka berhati-hatilah dengan apa yang telah disinyalir oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam . Bertobat adalah satu-satunya pilihan untuk terhindar dari pedihnya siksa neraka. Selama matahari belum terbit dari barat, atau nafas telah ada di kerongkongan… masih ada waktu untuk bertobat. Tapi mengapa mesti nanti? Mengapa mesti menunggu sakaratul maut?
Janganlah engkau katakan besok dan besok wahai saudariku, kejarlah ajalmu, bukankah engkau tidak tahu kapan engkau akan menemui Robb mu?

“Tidaklah seorang istri yang menyakiti suaminya di dunia, melainkan isterinya (di akhirat kelak): bidadari yang menjadi pasangan suaminya (berkata): “Jangan engkau menyakitinya, kelak kamu dimurkai Allah, seorang suami bagimu hanyalah seorang tamu yang bisa segera berpisah dengan kamu menuju kami.” (HR. At-Tirmidzi, hasan)

Wahai saudariku, mari kita lihat, apa yang telah kita lakukan selama ini? Jangan pernah bosan dan henti untuk introspeksi diri. Jangan sampai apa yang kita lakukan tanpa kita sadari membawa kita kepada neraka, yang kedahsyatannya tentu sudah Engkau ketahui.

...Jika suatu saat muncul sesuatu yang tidak kita sukai dari suami, janganlah kita mengingkari dan melupakan semua kebaikan yang telah suami kita lakukan...

Jika suatu saat muncul sesuatu yang tidak kita sukai dari suami, janganlah kita mengingkari dan melupakan semua kebaikan yang telah suami kita lakukan.

“Maka lihatlah kedudukanmu di sisinya. Sesungguhnya suamimu adalah surga dan nerakamu.” (HR. Ahmad)