Kamis, 12 Maret 2015

Amar Ma'ruf Nahi Munkar

“Orang yang tidak memerintah terhadap kebaikan dan mencegah kemungkaran adalah seperti orang yang mencampakkan Kitabullah di belakang punggungnya.”

( Sayyidina Ali Zainal Abidin Ra )

“Siapa yang memberi nasehat saudaranya di tempat yang sunyi, maka ia telah melakukan perbaikan pada dirinya, dan siapa yang memberi nasehat saudaranya di tempat keramaian, sesungguhnya ia membuka aib dan menghianatinya.”
( Imam Syafi’i )

“Barangsiapa terkumpul dalam dirinya tiga sifat, maka imannya telah sempurna : orang yang menyeru kepada kebaikan dan dia juga melaksanakannya, melarang pada perbuatan buruk dan dia tidak melakukannya serta menjaga aturan-aturan yang telah Allah swt tetapkan.”
( Imam Syafi’i )

"Berbicara tentang nasihat, kulihat diriku tak pantas untuk memberikannya. Sebab, nasihat seperti zakat, nishabnya adalah kemampuan untuk memetik nasihat itu bagi dirinya sendiri. Seseorang yang belum mencapai nishab, bagaimana ia akan mengeluarkan zakat ? Dan seorang yang tak memiliki cahaya, bagaimana dapat dijadikan sebagai alat penerang oleh orang lain? Bagaimana bayangan akan lurus jika kayunya bengkok ? Allah swt mewahyukan kepada 'Isa bin Maryam AS :
"Nasihatilah dirimu, jika kau mampu memetik nasihat, maka nasihatilah orang lain. Jika tidak, maka malulah kepada-Ku". 
( Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali )

"Anakku! Pertama-tama nasihatilah dirimu, kemudian nasihatilah orang lain. Perhatikanlah dirimu, jangan mengurusi orang lain, jangan mengurusi orang lain selama dalam dirimu masih ada sesuatu yang harus diperbaiki. Sungguh celaka, engkau mengaku tahu cara menyelamatkan orang lain! Engkau buta, bagaimana dapat menuntun orang lain? Hanya yang memiliki penglihatan tajamlah yang mampu menuntun umat manusia. Hanya seorang perenang handallah yang mampu menyelamatkan mereka dari samudera ganas. Hanya orang yang mengenal Allah swt lah yang dapat mengembalikan manusia ke jalan-Nya. Seseorang yang tidak mengenal-Nya, bagaimana dapat menuntun manusia ke jalan-Nya?"
( Sayyidina Syekh Abdul Qadir Jailany )


“Jangan berselisih dengan anakmu dan jangan pula bersikap keras kepadanya. Ajak dan perintahkan untuk berbuat kebaikan. Jika ia tidak patuh, jauhilah dia dengan santun dan penuh perhatian.”
( Imam Qutb Habib Ahmad bin Hasan Al-Aththas )

“Ajaklah orang awam kepada syariat dengan bahasa syariat; ajaklah ahli syariat kepada tarekat ( thariqah ) dengan bahasa tarekat; ajaklah ahli tarekat kepada hakikat ( haqiqah ) dengan bahasa hakikat, ajaklah ahli hakikat kepada Al-Haq dengan bahasa Al-Haq, dan ajaklah ahlul Haq kepada Al-Haq dengan bahasa Al-Haq.”
( Imam Qutb Irsyad Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad )

“Aku wasiatkan kepada kalian agar selalu ingat kepada Allah swt. Semoga Allah swt menganugerahkan keberkahan kepada kalian dalam menegakkan agama terhadap istri, anak dan para pembantu rumah tanggamu. Hati-hatilah, jangan menganggap remeh masalah ini, karena seseorang kadang-kadang mendapat musibah dan gangguan disebabkan oleh orang-orang di bawah tanggungannya, yaitu istri, anak dan pembantu. Sebab dia adalah pemegang kendali rumah tangga.”
( Habib Muhammad bin Idrus Al-Habsyi ).

Wasiat Nasehat ( Ilmu )


"Ilmu itu luas, sedangkan umur kita pendek, oleh karena itu, pilihlah ilmu yang sangat kamu butuhkan bagi agamamu dan tinggalkan yang lain.
Perumpaan seorang Mukmin di dunia ini adalah seperti seorang pasien di tangan perawatan dokternya. Ketika si pasien menginginkan sesuatu, sang dokter melarangnya, setelah dia sembuh, barulah sang dokter mengizinkannya. Begitu seorang Mukmin, terkadang ia menginginkan sesuatu yang dimiliki orang lain tetapi Allah swt tidak mewujudkan keinginannya tersebut hingga dia meninggal dunia dan masuk surga. ( sebab kalau diberikan di dunia, akan membuat dia tersesat )
( Sayyidina Salman Al-farisi )

“Ilmu dan Iman akan memudahkan orang untuk selalu Taqorrub ( mendekatkan diri) kepada Allah swt.”
( Imam Hasan Basri )

“Seseorang yang mencoba melakukan apa-apa yang dilarang Allah swt selain dosa syirik, masih lebih daripada dia berfikir dengan pandangan ilmu kalam.”
( Imam Syafi’i )

“Tujuan dari ilmu adalah mengamalkannya, maka ilmu yang hakiki adalah yang terefleksikan dalam kehidupannya, bukannya yang bertengger di kepala.”
( Imam Syafi’i )

“Tidak ada satupun ilmu yang ingin aku pelajari setelah aku memahami tentang masalah halal dan haram, kecuali ilmu kedokteran, tapi mengapa kita jauh terbelakang dibanding dengan orang-orang nasrani?”
( Imam Syafi’i )

“Cukuplah ilmu itu menjadi keutamaan bagi seseorang, ia bangga manakala disebut sebagai orang berilmu. Ia juga disebut bodoh manakala meninggalkan bagian dari pengetahuannya, dan jika kata bodoh itu ditujukan kepadanya, tentu ia akan marah.”
( Imam Syafi’i )

“Barangsiapa yang ingin menjadi seorang pemimpin, niscaya kedudukan yang didambakannya itu akan meninggalkannya, dan jika ia telah menduduki jabatan, maka ia akan ditinggalkan banyak ilmu.”
( Imam Syafi’i )

“Dasar ilmu adalah kemantapan dan buahnya adalah keselamatan. Dasar Wara’ ( menjaga diri dari sesuatu yang meragukan ) adalah Qona’ah ( menerima karunia Allah swt dengan dada yang lapang ) dan buahnya adalah ketenangan batin. Dasar Kesabaran adalah keteguhan hati dan buahnya adalah kemenangan. Dasar suatu Aktifitas adalah Taufiq ( pertolongan Allah swt ) dan buahnya adalah kesuksesan. Dasar Tujuan akhir dari segala Perkara adalah Shidiq ( benar ).”
( Imam Syafi’i )

“Orang yang mengkaji ilmu faraid, dan sampai pada puncaknya, maka akan tampil sebagai sosok orang yang ahli berhitung. Adapun ilmu hadits, itu akan tampak nilai keberkahan dan kebaikannya pada saat tutup usia. Adapun ilmu fiqih merupakan ilmu yang berlaku bagi semua kalangan baik muda maupun yang tua, karena fiqih merupakan pondasi dasar dari segala ilmu.”
( Imam Syafi’i )

“Seorang bijak menulis kepada seorang bijak lainnya : “wahai saudaraku, engkau telah dianugerahi ilmu, maka janganlah kamu kotori ilmumu dengan gelapnya dosa, sehingga kamu berada dalam kegelapan di saat para ahli ilmu berjalan dengan suluh ilmunya.”
( Imam Syafi’i )

“Barangsiapa menghendaki akhirat, maka hendaknya ia ikhlas dalam mencari ilmu.”
( Imam Syafi’i )

“Tidak ada orang yang mencari ilmu yang disertai dengan kemalasan; dan kekayaan menjadikan seseorang beruntung, namun keberuntungan itu akan melekat dalam diri orang yang senantiasa mencari ilmu dengan disertai semangat yang tinggi dan prihatin serta bersanding selalu dengan Ulama.”
( Imam Syafi’i )

“Ilmu tidak akan dapat diraih kecuali dengan ketabahan.”
( Imam Syafi’i )

“Barangsiapa mempelajari Al-Qur’an, maka mulia nilainya. Barangsiapa berbicara tentang fiqih, maka akan berkembang kemampuannya. Barangsiapa menulis hadits, maka akan kuat hujjahnya. Barangsiapa mengkaji bahasa, maka akan lembut tabiatnya. Barangsiapa mengkaji ilmu hitung, maka akan sehat pikirannya. Barangsiapa tidak menjaga jiwanya, maka ilmunya tidak akan berguna baginya.”
( Imam Syafi’i )

“Pondasi dasar adalah Al-Qur’an dan as-Sunnah. Jika tidak didapati dari keduanya, maka Qiyaslah berlaku. Jika hadits itu shahih, itulah yang disebut sunnah. Ijma’ itu lebih bisa dipertanggung jawabkan daripada hadits ahad. Yang diambil dari hadits itu adalah teksnya, namun jika hadits tersebut mengandung banyak penafsiran, maka carilah yang mendekati makna teksnya.”
( Imam Syafi’i )

“Mencari ilmu lebih utama daripada shalat sunnah. Mempelajari hadits itu lebih baik daripada shalat tathawwu.”
( Imam Syafi’i )

“Ilmu terbagi dua ; ilmu kesehatan dan ilmu agama. Yang dimaksud dengan ilmu agama disini adalah ilmu fiqih, sementara ilmu kesehatan adalah ilmu kedokteran.”
( Imam Syafi’i )

“Pelajarilah dengan teliti suatu pengetahuan, agar engkau tidak kehilangan kedalaman arti kandungannya.”
( Imam Syafi’i )

“Tak pantas, siapapun mengatakan halal dan haram kecuali berlandaskan pada pengetahuan. Dan ilmu itu adalah apa yang yang tertulis dalam Al-Qur’an, hadits, ijma’ ataupun qiyas. Dari dasar inilah kesemuanya akan terungkap maknanya.”
( Imam Syafi’I )

“Andaikan aku ditakdirkan mampu menyuapkan ilmu kepadamu, pasti kusuapi engkau dengan ilmu.”
( Imam Syafi’I )

“Aku akan merasa bahagia, jika semua orang mempelajari ilmu ini, dan sama sekali tidak menyandarkannya padaku.”
( Imam Syafi’I )

“Betapa aku senang, jika semua ilmu yang aku ketahui dimengerti oleh semua orang, maka dengannya aku mendapat pahala, meskipun mereka tidak memujiku.”
( Imam Syafi’i )

“Menuntut ilmu membutuhkan tiga hal : memiliki keterampilan, umur ( waktu ) yang panjang dan mempunyai kecerdasan.”
( Imam Syafi’i )

“Jika kalian melihat kitab yang didalamnya ada catatan tambahan dan perbaikan, maka lihatlah kebenaran yang ada didalamnya.”
( Imam Syafi’i )

“Mereka yang menguasai bahasa arab adalah jin yang berupa manusia, mereka melihat apa yang tidak dilihat orang lain.”
( Imam Syafi’i )

“Sesungguhnya akal itu punya batas maximal, sebagaimana mata juga mempunyai batas pandang maximal.”
( Imam Syafi’i )

“Siapa yang menghendaki kehidupan dunia, maka harus disertai dengan ilmu; dan siapa menghendaki akherat, juga harus dengan ilmu.”
( Imam Syafi’i )

”Setelah semua kegelisahan itu, perhatianku ku pusatkan pada jalan sufi. Ternyata jalan ini tidak akan dapat ditempuh kecuali dengan ilmu dan amal. Langkahnya harus menempuh tanjakan-tanjakan batin dan penyucian diri untuk mengkondisikan kesiapan batin, kemudian mengisinya dengan zikir kepada Allah SWT.””Bagiku, ilmu lebih mudah daripada amal. Maka aku pun segera memulai perjalanan spiritualku dengan mempelajari ilmu para sufi terdahulu, membaca karya-karya mereka. Antara lain Quth al-Qulib karya Abu Thalib Al-Makki dan karya-karya Haris Al-Muhasibi. Juga ucapan-ucapan Junaid Al-Bagdadi, Asy-Syibli, Abu Yazid Al-Busthami “
( Imam Hujjatul Islam Abu hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali )

"Kalian menghadiri majelis ilmu hanya untuk mencari jalan keluar bagi permasalahan duniawi kalian, bukan untuk mengobati penyakit hati. Kalian tidak mendengarkan nasihat para penceramah, tetapi meneliti kesalahan mereka, kemudian menghina dan mentertawakannya, kalian juga bermain-main dalam majelis. Sesungguhnya kalian sedang mempertaruhkan diri kalian kepada Allah swt yang Maha Agung dan Maha Mulia. Segeralah bertobat, jamgan mencontoh musuh-musuh Allah 'Azza wa jalla. Berusahalah untuk mengambil manfaat dari apa yang kalian dengar."
( Sayyidina Syekh Abdul Qadir Jailany )


"Barang siapa duduk dalam majelis ilmu bersama seorang yang berilmu, tetapi tidak mampu menghapal sedikitpun ilmu yang disampaikan disana, maka dia telah mendapatkan tujuh kemuliaan :
1. Dia mendapatkan pahala yang disediakan bagi penuntut ilmu.
2. Selama duduk dalam majelis itu, dia terhindar dari perbuatan dosa.
3. Rahmat Allah swt menghampirinya ketika dia keluar dari rumah menuju majelis itu.
4. ketika orang-orang yang berada dalam majelis ilmu tersebut memperoleh rahmat, maka dia juga akan memperoleh bagian darinya.
5. Selama dia mendengarkan kajian di majelis itu, dia tercatat sebagai seorang yang sedang beribadah kepada Allah swt.
6. ketika dia sedih karena kurang mampu memahami kajian yang disampaikan, maka kesedihannya itu menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah swt.
7. Di majelis itu dia akan melihat kemuliaan seseorang yang berilmu dan kehinaan seorang pendurhaka. Akhirnya dia akan menyukai ilmu dan membenci perbuatan fasik.
( Syekh Abul Laits ) 

“Keridhoan Allah swt dan Rasulnya terletak pada muthalaah( mempelajari dan memperdalam ) Al qur’an dan hadits serta kitab-kitab agama islam.”
( Al-Imam Auliya Al-Habib Abdullah bin Abu Bakar Al-Aydrus )

“Orang yang bahagia adalah orang yang disenangkan oleh Allah tanpa alasan tertentu dan orang yang sengsara adalah orang yang disengsarakan Allah tanpa sebab tertentu. Demikianlah menurut ilmu hakikat. Sedangkan menurut ilmu syariat; orang yang bahagia adalah orang yang oleh Allah diberi kesenangan dengan melakukan berbagai amal saleh, dan orang yang disengsarakan oleh Allah dengan meninggalkan amal-amal saleh dan melanggar syariat agama.”
( Sayyidina Syekh Abu Bakar bin Salim Ra )

“Sumber-sumber ilmu tidak akan berkurang sedikitpun dari generasi terkemudian, akan tetapi pada umumnya mereka datang dengan membawa wadah yang bocor, sehingga tidak memperoleh ilmu kecuali sedikit.”
( Imam Qutbil Anfas Habib Umar bin Abdurrahman Al-Aththas )

“Camkanlah, jangan sampai kalian tidak mempelajari ilmu bahasa, Nahwu dan shorof. Karena ilmu bahasa merupakan dasar dan perantara kalian untuk memahami semua ilmu.”
( Imam Qutb Al-Arif billah Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi )

“Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang tidak akan meninggalkanmu di dunia maupun di akhirat. Ilmu adalah Alat. Meskipun ilmu itu baik, tapi hanyalah alat, bukan tujuan. Ilmu digunakan hanya untuk mencapai tujuan. Ilmu harus diiringi adab, akhlaq danniat-niat saleh. Ilmu demikian inilah yang dapat mengantarkan seseorang kepada maqam-maqam yang tinggi.” 
( Imam Qutb Habib Ahmad bin Hasan Al-Aththas )

“Pelajarilah ilmu, tanamkan dalam hati niat untuk mengamalkannya, maka Allah swt akan mengembalikan semua yang hilang dari kalian.”
( Imam Qutb Habib Ahmad bin Hasan Al-Aththas )

“Jika kau membaca sesuatu dan tidak dapat memahaminya, atau hatimu tidak hadir sewaktu membacanya, maka ulangilah lagi di waktu yang lain. Sebab setiap waktu memilki rahasia yang berbeda.”
( Imam Qutb Habib Ahmad bin Hasan Al-Aththas )

"Saat-saat ini aku jarang melihat santri-santri atau siswa-siswa madrasah yang menghargai ilmu. Banyak aku lihat mereka membawa mushaf atau kitab-kitab ilmu yang lain dengan cara tidak menghormatinya, menenteng atau membawa dibelakang punggungnya. Lebih dari itu mereka mendatangi tempat-tempat pendidikan yang tidak mengajarkan kepada anak-anak kita untuk mencintai ilmu tapi mencintai nilai semata-mata. Mereka diajarkan pemikiran para filosof dan budaya pemikiran-pemikiran orang Yahudi dan Nasrani."
( Imam Qutb Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf )

"Apa yang akan terjadi pada generasi remaja masa kini? Ini tentu adalah tanggung jawab bersama. Al-Habib Ali pernah merasakan kekecewaan yang sama seperti yang aku rasa. Padahal di zaman beliau, aku melihat kota Seiwun dan Tarim sangat makmur, bahkan negeri Hadramaut dipenuhi dengan para penuntut ilmu yang beradab, berakhlaq, menghargai ilmu dan orang 'Alim. Bagaimana jika beliau mendapati anak-anak kita disini yang tidak menghargai ilmu dan para Ulama? Niscaya beliau akan menangis dengan air mata darah. Beliau menambahkan bahwa aku akan meletakkan para penuntut ilmu di atas kepalaku dan jika aku bertemu murid yang membawa bukunya dengan rasa adab, ingin rasanya aku menciun kedua matanya."
( Imam Qutb Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf )

"Aku teringat pada suatu untaian mutiara nasihat Al-Habib Ahmad bin Hasan Al-Aththas yang mengatakan; Ilmu adalah alat, meskipun ilmu itu baik ( hasan ), tapi hanya alat bukan tujuan, oleh karenanya ilmu harus diiringi adab, akhlaq dan niat-niat yang sholeh. Ilmu demikianlah yang dapat mengantakan seseorang kepada maqam-maqam yang tinggi."
( Imam Qutb Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf ).

Adab



"Ucapan dibagi menjadi empat :
1. Ucapan yang bermanfaat tetapi berakibat buruk. Sebaiknya engkau diam dan tidak mengucapkannya agar selamat.
2. Ucapan yang tidak bermanfaat dan tidak berakibat buruk, jika engkau diam dan tidak mengucapkannya, maka tubuh dan lisanmu tidak akan lelah.
3. Ucapan yang tidak bermanfaat dan berakibat buruk, maka seorang yang berakal akan diam menghindari keburukan yang akan membebaninya.
4. Ucapan yang bermanfaat dan tidak berakibat buruk, maka engkau wajib menyebar luaskannya.
( Syekh Ibrahim bin Adham ) 

"Di zaman ini, hanya sedikit orang yang menunjukkan adab luhur dalam majlis. Jika ada seseorang yang datang, mereka berdiri dan bersalaman atau menghentikan bacaan, padahal orang itu datang ke majlis tersebut tidak lain untuk mendengarkan. Oleh karenanya, banyak aku jumpai orang di zaman ini, jika datang seseorang, mereka berkata, "silahkan kemari" dan yang lain mengatakan juga "silahkan kemari" sedang orang yang duduk di samping mengipasinya.
Gerakan-gerakan dan kegaduhan yang mereka timbulkan menghapus keberkahan majelis itu sendiri. Keberkahan majlis bisa diharapkan, apabila yang hadir beradab dan duduk di tempat yang mudah mereka capai. Jadi keberkahan majlis itu pada intinya adalah adab, sedangkan adab dan pengagungan itu letaknya di hati. Oleh karena itu, wahai saudara-saudarku, aku anjurkan kepada kalian, hadirilah majlis-majlis khoir ( baik ). Ajaklah anak-anak kalian kesana dan biasakan mereka untuk mendatanginya agar mereka menjadi anak-anak yang terdidik baik, lewat majlis-majlis yang baik pula!"
( Imam Qutb Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf )

Syukur


”Hakikat Syukur adalah mengakui dengan penuh ketundukan terhadap nikmat si Pemberi nikmat, mempersaksikan karunianya dan memelihara kehormatannya dengan menyadari, sesungguhnya bahwa kita tidak akan sanggup untuk bersyukur dalam artian yang sebenarnya.”
”Orang miskin yang sabar karena Allah swt menghadapi kemiskinannya adalah lebih baik daripada orang kaya yang bersyukur kepadanya. Orang Miskin yang bersyukur adalah lebih baik dari kedua orang di atas. Sedangkan Orang Miskin yang sabar dan bersyukur adalah lebih baik dari mereka semua. Tidak ada yang sabar menjalani Ujian, kecuali orang yang tahu akan hakikat ujian tersebut.”
( Sayyidina Syekh Abdul Qadir al-Jailany )

Harga Diri



“Di antara orang yang tidak mempunyai harga diri adalah mereka yang dengan mudahnya memberitahukan usianya kepada orang lain, karena kalau usianya lebih muda, tentu mereka akan menganggapnya rendah dan jika usianya lebih tua, tentu mereka akan beranggapan bahwa ia sudah pikun.”
( Imam Syafi’i )

“Peranti terbentuknya harga diri itu ada empat : kemuliaan akhlak, kedermawanan, sikap santun dan ibadah ( yang istiqamah ).”
( Imam Syafi’i )

“Barangsiapa yang menghargai dirinya melebihi kapasitasnya, maka Allah swt akan mengembalikannya kepada nilai sesungguhnya dalam dirinya.”
( Imam Syafi’i )

syarat menuntut ilmu

“Menuntut ilmu membutuhkan tiga hal : memiliki keterampilan, umur ( waktu ) yang panjang dan mempunyai kecerdasan.”
( Imam Syafi’i )

Selasa, 10 Maret 2015

SYAHAADATAIN



Urgensi syahadat (ahammiyah asy’syahaadatain) perlu dijabarkan kepada masyarakat agar dapat benar-benar memahami syahaadah secaca konsepional dan secara operasional aplikatif. Kenapa syahadat penting, karena dengan bersyahadah seseorang bisa menyatakan dirinya sebagai muslim, syahadah sebagai pintu bagi masuknya seseorang ke dalam Islam. Pemahaman seorang muslim terhadap syahaadatain akan dapat melakukan perubahan-perubahan individu, keluarga ataupun masyarakat. Dalam sejarah para nabi dan rasul. Syahadah merupakan kalimat yang diperjuangkan. Dan kalimat inilah yang menggerakkan dakwah nabi dan rasul.
Dengan syahaadah tentunya setiap muslim akan mendapatkan banyak pahala dan ganjaran yangbesar dari Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda, Barangsiapa yang bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang patut disembah kecuali Allah semata dan tidak menyekutukanNya, dan bahwa Nabi Muhammad adalah hambaNya dan utusanNya, bahwa Nabi lsa adalah hamba Allah dan utusanNya, serta Ruhnya dicampakkan ke dalam diri Maryam, surga dan neraka adalah Haq, ia akan dimasukkan ke dalam surga oleh Allah sesuai dengan amal perbuatannya (HR Bukhari). Begitu pula dalam hadits yang lain bahwa siapa yang bersaksi tiada Tuhan yang patut disembah melainkan Allah dan Muhammad adalah Rasulullah, Allah telah tnengharamkan badannya untuk disentuh neraka.
Mereka yang mendapatkan pahala dan Allah adalah yang bersyahadat. Pengakuan syahadat manusia terhadap Laa ilaha illa Allah belum dianggap syahadat jika tidak mengandung makna pengakuan bahwa tidak ada Tuhan yang patut disembah selain Allah semata dengan akal dan hati, kemudian syahadat diucapkan dengan lidah, dengan tegas serta tidak boleh berubah atau murtad.

Ahammiyyah Asy-Syahadatain (urgensi Bersyahadat)
Syahadatain adalah rukun Islam yang pertama. Urgensi syahaadah ini karena syahadah sebagai dasar dan asas bagi rukun Islaim lainnya dan menjadi tiang untuk rukun Iman dan Diin. Syahadatain ini menjadi ruh (semangat) inti dan landasan seluruh ajaran Islam. Oleh sebab itu, sangat penting syahadah dalam kehidupan seorang muslim. Sebab-sebab kenapa syahadah penting bagi kehidupan muslim karena syahadah adalah:
a. Pintu masuknya Islam.
b. Intisari ajaran Islam
c. Dasar-dasar perubahan menyeluruh.
d. Hakikat dakwah para rasul
e. Keutamaaan yang besar

1. Madkhal llaa Al-islaam (pintu masuk kedalam Islam)
  • Sahnya iman seseorang adalah dengan menyatakan syahadatain. Tanpa mengucapkan kalimat syahadatain maka amal yang dikerjakan bagaikan abu atau fartamorgana yang terlihat tapi tidak ada. Allah menyebutkan bagaikan debu yang beterbangan kepada amal baik sekalipun yang tidak didasari oleh syahadat.
  • Kesempurnan iman seseorang bergantung kepada pemahaman dan pengamalan syahaadatain.
  • Syahaadatain menjadi pembeda manusia kepada Islam dan kafir
  • Pada dasarnya setiap manusia telah bersyahadah Rubbubiyah di alam arwah tetapi ini saja belum cukup, untuk menjadi muslim mereka harus bersyahadah Uluhiyah dansyahaadah risalah di dunia.
  • Pentingnya mengerti, memahami dan melaksanakan syahaadatain. Manusia berdosa akibat melalaikan pemahaman dan pelaksanaan syahaadatain.
  • Manusia menjadi kafir karena menyombongkan diri terhadap Laa ilaha illa Allaah.
  • Yangdapat bersyahadat dalam arti sebenarnya adalah hanya Allah SWT, para Malaikat dan orang orang yang berilmu yaitu para Nabi dan orang yang beriman kepada mereka.
  • Manusia bersyahadah di alam arwah sehingga fitrah manusia mengakui keesaan Allah SWT. Ini perlu disempurnakan di dunia dengan membaca syahaadatain sesuai ajaran Islam.

Dalil
  • Hadits Rasulullah SAW memerintahkan Mu’az bin Jabal untuk mengajarkan dua kalimat syahaadah, sebelum pengajaran lainnya.Rasulullah bersabda kepada Mu’adz bin Jabal saat mengutusnya ke penduduk Yaman, ‘Kamu akan datang kepada kaum ahli kitab. Jika kamu telah sampai kepada mereka, ajaklah mereka agar dapat bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan Muhammad utusan Allah. Jika mereka mentaatimu dalam hal itu, beritakan kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan kepada mereka lima shalat setiap siang dan malam. Jika mereka mentaatimu dalam hal itu, beritakan kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan sedekah (zakat) yang diambil dari orang kaya diantara mereka dan dikembalikan kepada orang miskin. Jika mereka mentaatimu dalam hal itu hati hatilah kamu dalam kemuliaan harta mereka dan waspadalah terhadap doanya orang yang dizalimi, sebab antaranya dan Allah tidak ada dinding pembatas” (HR Bukhari Muslim)
  • Hadits Pernyataan Rasulullah SAW tentang misi Laa ilaha illa Allah dan kewajiban manusia untuk menerimanya. Dari Abdullah bin Umar bahwa Rasulullah SAW bersabda ‘Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan Muhammad utusan Allah, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat. Jika mereka telah melakukan hal itu, terpeliharalah darah dan harta benda mereka kecuali dengan haknya sedangkan hisab mereka kepada Allah” (HR Bukhari Muslim)
  • Q. 47:19. Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan melainkan Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat tinggalmuKalimat wastaghfir lizanbik(pada ayat tersebut) menunjukkan bahwa inkosistensi sikap seseorang dengan pernyataan tauhidnya (Laa ilaha illaLlah) adalah perbuatan dosa, karena pernyataan tersebut pada hakikatnya adalah pernyataan ikrar kecintaan, ketaatan, dan rasa takut hanya kepada Allah semata, maka bila seseorang muslim tidak menunaikan shalat, tidak menutup aurat, terlibat dalam pergaulan bebas antar lawan jenis, hal itu merupakan sikap tidak konsisten dengan pernyataan tauhidnya. Karena dengan sikap seperti itu, cinta, taat, dan rasa takutnya tidak diarahkan kepada Allah tetapi kepada hawa nafsunya sendiri.
  • Hadits. Diriwayatkan dari Utsman RA. yang mengatakan bahwa RasulullahSAW bersabda barang siapa meninggal sedang ia mengetahui bahwa tak ada tuhan disembah kecuali Allah, ia masuk surga. Dalam Kitab As Sahih.
  • Q. 37;35. Sesunguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka: “Laa ilaaha ilia Allaah” (tiada Tuhan melainkan Allah) mereka menyombongkan diriYang dimaksud menyombongkan diri ketika mendengar kalimat Laa ilaha illaLlah tidak semata mata karena tidak mau mengucapkan atau mendegnarkan, tetapi yang dimaksud adalah substansinya, yaitu hanya taat, takut, dan cinta kepada Allah. Karena itu kesombongan diri dalam ayat ini maksudnya adalah sikap tidak mau taat dan tunduk kepada perintah Allah, seperti perintah shalat, menutup aurat, menjauhi pertaulan bebas, berkhalwat dengan yang bukan mahramnya, dan sebagainya.
  • Q. 3:18. Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tidak ada Tuhan melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
  • Q. 7:172. Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab; “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesunggulmya kami (bani Adam) adalan orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”.
  • Q.25:23.Dan Kamimenghadap kepada apa yang mereka telah kerjakan dari amal (baik), lalu Kami jadikan dia debu yang beterbangan.
  • Q 39:64-65. Katakanlah apakah patut sesuatu yang lain dari Allah, kamu suruh aku mcnyembah, hai orang-orang yang bodoh? Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada mereka yang sebelummu, bahwa jika engkau menyekutukan Allah, niscaya gugur amalmu dan tentulah engkau termasuk orang-orang yang rugi.

2. Khulaashah Ta’aaliim Al-Islaam (Intisari Ajaran Islam)
  • Pemahaman muslim terhadap Islam bergantung kepada pemahaman pada syahadatain. Seluruh ajaran Islam terdapat dalam dua kalimat yang sederhana ini. Ada 3 hal prinsip syahadatain:
  1. Pernyataan Laa ilaaha illa Allahh merupakan penerimaan penghambaan atau ibadah kepada Allah SWT saja. Melaksanakan minhajiLlah (sistem/aturan Allah SWT) merupakan ibadah keepadaNya.
  2. Menyebut Muhammad Rasulullah merupakan dasar penerimaan cara penghambaan itu dari Muhammad SAW. Rasulullah adalah teladan dan ikutan dalam mengikuti Minhajillah.
  3. Penghambaan kepada Allah SWT meliputi seluruh aspek kehidupan. Ia mengatur hubungan manusia dengan Allah SWT dengan dirinya sendiri dan dengan masyarakatnya.
  • Makna laa ilaaha illa Allah adalah penghambaan kepada Allah SWT. Wujud penyerahan diri hanya kepada Allah saja yang menciptakan manusia.
  • Rasul diutus dengan membawa ajaran tauhid yaitu kalimat laa ilaaha illaa Alalh. Melalui contoh Nabi SAW, manusia melakukan ibadah yang tepat dalam melaksanakan syariat Islam.
  • Muhammad SAW adalah teladan dalam setiap aspek kehidupan termasuk bagaimana cara mentauhidkan Allah SWT.
  • Aktifitas hidup hendaknya mengikuti ajaran Muhammad SAW, karena dengan mengikutinya akan mendapatkan berkah dan rahmat dari Allah SWT
  • Seluruh aktifitas hidup manusia secara individu, masyarakat, dan negara mesti ditujukan kepada mengabdi Allah SWT saja.
  • Islam adalah satu-satunya syariat yang diridhai Allah SWT. Tidakdapat dicampur dengan syariat lainnya.

Dalil
  • Q. 2 :21. Hai manusia, sembahlah Tuhanmu Yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa.
  • Q.5l;56.Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembahKu.
  • Q. 21:25. Dan. Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku”.
  • Q.33 :21. Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.
  • Q. 3:31. Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencincai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Peengampun lagi Maha Penyayang.
  • Q. 6:162. Katakanlah: “sesungguhnya sembahyangku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam”.
  • Q. 3:1.9. Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisabNya.
  • Q. 3:85. Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadarnya, dan di akhirat termasuk orang-orang yang merugi.
  • Q. 45; 18. Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dan urusan (agama) itu, maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui.
  • Q. 6; 153. Dan bahwa (yang kami perintahkan) ini adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilahdia, dan janganlah kamu tnengikuti (jalan-jalan yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dan jalanNya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa.
  • Sirah Shahabat

3. Asaas AI lnqlaab {Dasar-dasar Perubahan)
  • Syahaadatain mampu merubah manusia dalam aspek keyakinan, pemikiran, maupun jalan hidupnya. Perubahan meliputi berbagai aspek kehidupan manusia secara individu atau masyarakat
  • Ada perbedaan penerimaan syahaadatain pada generasi pertama umat Muhammad dengan generasi sekarang. Perbedaan tersebut disebabkan pemahaman terhadap makna syahadatain secara bahasa dan pengertian/pemaknaaa, serta sikap konsisten terhadap syahaadah tersebut dalam pelaksanaan ketika menerima maupun menolak.
  • Umat terdahulu langsung berubah ketika menerima syahadatain sehingga mereka yang tadinya bodoh menjadi pandai, yang kufur menjadi beriman, yang bergelimang dalam maksiat menjadi takwa dan abid (penghamba), yang sesat mendapac hidayah. Masyatakat yang tadinya bermusuhan menjadi bersaudara di jalan Allah SWT. Syahadatain telah berhasil merubah masyarakat dahulu maka syahadatain pun dapat merubah umat sekarang menjadi baik.
  • Penggambaran Allah SWT tentang perubahan yang terjadi pada para sahabat Nabi yangdahulunya berada dalam kegelapan jahiliyah kemudian beradaa dalam cahaya Islam yang gemilang.
  • Perubahan individu contohnya terjadi pada Mus’ab bin Umarin yang sebelum mengikuti dakwah rasul rasui merupakan pemuda yang paling terkenal dengan kehidupan yang glamour di kota Mekkah tetapi setelah menerima Islam, ia menjadi pemuda sederhana yang dai, duta rasul untuk kota Madinah. Kcmudian, menjadi syuhada Uhud. Saat syahidnya rasulullah membacakan surat al ahzab ayat 23
  • Beberapa reaksi masyarakat Quraisy terhadap kalimat tauhid sangat beragam. Mereka yang menggunakan akalnya akan dapat mudah menerima kalimat tauhid tetapi sebaliknya mereka yang menggunakan hawa nafsu serta adanya berbagai kepentingan akan menyulitkan mereka memahami kalimat tauhid.
  • Reaksi musuh terhadap keimanan kaum mukminin terhadap Allah SWT diantaranya adalah penyiksaan, penahanan, pemboikotan bahkan pembunuhan.
  • Musuh Allah seperti kaum musyrikin senantiasa memerangi mereka yang konsisten dengan pernyataan Tauhid. Orang yang beriman dalam sejarah selalu mampu mempertahankan keimanannya dalam menghadapi serangan musuh secara fisik, tetapi serangan opini dan pemikiran terkadang umat Islam kalah seperti yang terjadi pada saat ini.

Dalil
  • Q.6:122. Dan apakah orang yang sudah mati kemudian Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar daripadanya? Demikianlah Kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang telah mereka kerjakan
  • Q. 33: 23. Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah, maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang rnenunggu-nunggu dan mereka sedikitpun tidak merubah (janjinya).
  • Q. 37:35 -37 Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka; “Laa ilaaha illa Allaah (TiadaTuhan melainkan Allah) mereka menyombongkan diri, dan mereka berkata: “Apakah sesungguhnya kami harus meninggalkan sembahan-Sembahan kami karena seorang penyair gila?” Sebenarnya dia (Muhammad) telah datang membawa Kebenaran dan membenarkan rasul-rasul sebelumnya.
  • Q. 85:6-10. Ketika mereka duduk di sekitarnya, sedang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman. Dan mereka tidak menyiksa orang-orang rnukmin itu melainkan karena orang-orang mukminn itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji
  • Q. 18:2. Sebagai bimbingan yang lurus, untuk memperingatkan akan siksaan yang sangat pedih dari sisi Allah dan mcmberi berita gembira kepada orang-orang yang beriman, yang mengerjakan amal saleh, bahwa inereka akan mendapat pembalasan yang baik.
  • Q. 8:30. Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya.
  • Hadits. Laa ilaha illa Allah kalimat yang dibenci penguasa zalim.
  • Hadits. Janji Rasul bahwa kalimat tauhid akan memuliakan kaurnnya.

4. Haqiiqah Da’wah Ar-Rusul (Hakiat Seruan Para Rasul)
  • Setiap Rasul semenjak nabi Adam. AS hingga nabi besar Muhammad SAW membawa misi dakwah yang sama yaitu syahadah. Makna syahaadah yang dibawa juga sama yaitu Laa ilaaha illa Allah. Dakwah rasul senantiasa membawa umat kepada pengabdian Allah SWT saja.
  • Nabi lbrahim berdakwah kepada masyarakat untuk membawanya kepada pengabdian Allah SWT saja.
  • Para nabi semenjak nabi Adam AS hingga Muhammad SAW membawa dakwah bahwa ilah hanya satu yaitu Allah SWT saja. Allah sebagai ilah adalah misi para Nabi untuk disampaikan kepada seluruh manusia.

Dalil
  • Q. 60:4 Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia ketika mereka berkata kepada kaum mereka “Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dan daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antaara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. Kecuali perkataan Ibrahim kepada bapaknya: “Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatupun dari kamu (siksaan) Allah”, (lbrahim berkata): “Ya Tuhan kami hanya kepada Engkaulah kami betawakal dan hanya kepada Engkaulah kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali”
  • Q. 18: l10. Katakanlah: Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa.” Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya.”

5. Fadhaail ‘Azhiimah (Ganjaran yang Besar)
Banyak ganjaran dan pahala yang diberikan oleh Allah SWT dan dijanjikan oleh Nabi Muhammad SAW. Ganjaran dapat berupa material ataupun moral. Misalnya kebahagiaan di dunia dan akhirat, rezeki yang halal serta keutamaan lainnya. Keutamaan ini selalu dikaitkan dengan aplikasi dan implikasi syahaadah dalam kehidupan sehari-hari. Dihindarkannya kita dari segala macam penyakit dan kesesatan di dunia dan di akhirat.

Dalil
Hadits. Allah SWT akan menghindarkan ncraka bagi mereka yang menyebut kalimat syahadah.
Hadits. Orang yang pada akhir kalimatnya (waktu ajal) mengucapkan Laa ilaha illa Allaah dijamin masuk surga.
Hadits. Dua perkara yang pasti, Kata Rasulullah SAW. Maka seorang sahabat bertanya, Apakah perkara itu ya Rasulullah? Rasulullah SAW menjawab, Barangsiapa yang mati dalam keadaan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu, ia tetap masuk surga (HR Ahmad).